Senin, 13/07/2026 16:50 WIB
Bandung, Jurnas.com - Puluhan mahasiswa dan Dosen Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung membagikan bibit dan menanam pohon di Kampung Cikawari, Desa Mekarmanik, Cimenyan Kabupaten Bandung. Kegiatan amal ekologi ini dilakukan untuk memperbaiki krisis lingkungan di Kawasan Bandung Utara (KBU).
“Sebagai bagian hulu Kota Bandung, kerusakan lingkungan KBU dapat menjadi ancaman yang bisa menimbulkan bencana alam,” kata Yusuf Abdullah Noor, mahasiswa Magister Teknik Sipil USB Bandung dalam keterangan tertulis diterima Jurnas.com, Senin (13/70).
Melihat permasalahan lingkungan tersebut Yusuf tergerak untuk melakukan aksi nyata. Mereka melakukan penggalangan donasi untuk belanja bibit, dan juga mengusung pengetahuan Green Infrastructure.
Teori tentang Infrastruktur Hijau itu baru benar-benar dipahaminya ketika ia berdiri di lereng Kawasan Bandung Utara (KBU), memegang bibit pohon yang akan ditanam bersama petani lokal.
Hari Bumi, PTPN Group Gerakkan Karyawan Tanam Pohon
Disaksikan Rocky Gerung, Polda Riau Inisiasi Aksi Tanam Pohon
Mentan Amran Dampingi Presiden Gerakan Tanam Pohon Bersama Sebagai Menteri LHK Ad-Interim
“Bagi kami, kegiatan berbagi bibit dan menanam pohon merupakan kesempatan menguji ilmu teknik sipil agar bisa menjawab persoalan lingkungan sekaligus menjaga sumber penghidupan petani, “ kata Yusuf.
Menurutnya, lokasi penanaman yang berada di KBU memiliki arti penting karena berada di kawasan hulu Bandung. Selama ini kawasan tersebut mengalami perubahan penggunaan lahan cukup pesat.
Terdapat fakta, perkebunan terus berkembang karena menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar. Kondisi tersebut, kata Yusuf, merupakan sesuatu yang positif dari sisi ekonomi, tetapi tetap harus diimbangi dengan upaya menjaga fungsi ekologis kawasan.
"Pembukaan lahan memang meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, ada potensi erosi di kawasan hulu yang dampaknya akan dirasakan masyarakat di hilir. Jadi tantangannya adalah bagaimana ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan lingkungan," ujarnya.
Konsep itulah yang menjadi dasar penerapan Green Infrastructure dalam kegiatan bertajuk USB Green Action tersebut. Ia menilai program penanaman pohon ini tidak lantas menghentikan aktivitas berkebun yang menjadi sumber utama penghasilan para petani.
Menurutnya, perbaikan lingkungan di KBU perlu dilakukan secara bersamaan dengan peningkatan pendapatan para petani. Dengan demikian, tanaman yang dipilih pun bukan sekadar untuk menghijaukan lahan. Tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
Pada kegiatan aksi tanam ini Yusuf beserta tim USB Bandung memilih tanaman keras seperti cengkeh dan berbagai jenis pohon buah. Dengan demikian, petani tetap memperoleh hasil panen. Konservasi lahan pun di saat yang bersamaan tetap terjaga.
"Pembukaan lahan yang sudah terjadi tidak bisa kita hilangkan begitu saja. Yang bisa kita lakukan adalah mengobatinya dengan penanaman pohon-pohon produktif. Jadi kawasan tetap menghasilkan secara ekonomi, tetapi kemampuan tanah menahan air dan mencegah erosi juga meningkat," jelas Yusuf.
Selain penanaman pohon, mahasiswa juga memperkenalkan berbagai bentuk infrastruktur hijau sederhana yang dapat diterapkan petani. Salah satunya adalah pembuatan rorak, yakni lubang resapan berukuran kecil yang berfungsi menampung air hujan agar lebih banyak meresap ke dalam tanah.
Menurut Yusuf, persoalan di KBU sebenarnya bukan karena sumber air telah hilang, melainkan debit air yang terus menurun.
"Airnya masih ada. Yang berkurang adalah debitnya. Karena itu kita perlu mempertahankan air agar tetap berada di dalam tanah. Salah satunya dengan membuat banyak rorak di lokasi-lokasi yang memiliki potensi sumber air,” tambahnya.
Ukuran rorak itu memang tidak besar. Agar perannya bisa signifikan perlu dibuat dengan jumlah yang banyak. Hal itu dilakukan supaya mampu menahan limpasan air hujan secara maksimal.
Ia juga menjelaskan, keberadaan pohon berakar kuat akan membantu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air. Kombinasi vegetasi dan rorak menjadi solusi sederhana yang relatif mudah diterapkan masyarakat tanpa membutuhkan biaya besar.
Yang membuat Yusuf optimistis adalah keterbukaan masyarakat Desa Mekarmanik terhadap pendekatan tersebut. Berbeda dengan pengalaman yang pernah ia temui di desa lain, petani di kawasan ini dinilai lebih siap menerima konsep Green Infrastructure.
"Sebelumnya saya pernah ikut kegiatan penanaman di desa lain, tapi ditolak masyarakat sekitar karena mereka khawatir pohon akan menghalangi sinar matahari untuk tanaman sayuran. Kalau di sini petaninya sudah lebih terbuka dan menerima,” ungkapnya.
Selain edukasi terkait pemulihan lahan kritis, kegiatan pengabdian kepada masyarakat USB Bandung ini juga mendorong petani untuk mampu meningkatkan pendapatan dengan menanam pohon buah.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Kepala Program Studi D3 Akuntansi Direktorat Vokasi USB YPKP Bandung, Bambang Rustandi. Ia menegaskan bahwa petani tidak akan rugi jika menanam pohon buah.
Menurutnya, pohon buah tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan mereka.
"Pohon buah bisa jadi ATM bagi petani," kata Bambang.
Untuk dapat mendapatkan hasil tersebut, ia berharap program kolaborasi dengan Odesa Indonesia ini bisa berjalan secara berkelanjutan.