Jum'at, 10/07/2026 18:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara mulai mengubah cara para ilmuwan memandang pembangunan kota. Ruang hijau seperti pepohonan, taman, hingga lahan basah kini dinilai bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan infrastruktur penting yang dapat menyelamatkan nyawa di tengah krisis iklim.
Gelombang panas yang melanda Eropa pada Juni lalu menjadi salah satu bukti nyata dampak perubahan iklim terhadap kehidupan perkotaan. Ribuan orang dilaporkan meninggal akibat suhu ekstrem di Prancis, sementara rumah sakit di Inggris kewalahan hingga sejumlah sistem teknologi mengalami gangguan.
Dikutip dari Live Science, di Amerika Serikat, fenomena heat dome yang menyelimuti kawasan Midwest dan Pantai Timur juga menyebabkan sedikitnya 25 kematian selama libur Hari Kemerdekaan.
Menurut kajian terbaru, kota-kota di seluruh dunia masih terlalu bergantung pada pembangunan berbasis beton, jalan raya, jembatan, dan gedung, sementara keberadaan ruang hijau belum diperlakukan sebagai bagian penting dari infrastruktur perkotaan.
Panas Ekstrem Picu Kebakaran Hutan di Spanyol, 12 Orang Tewas
Kemlu Diminta Lindungi WNI Terdampak Gelombang Panas Ekstrem Eropa
Gelombang Panas Ekstrem, Prediksi Cuaca Akurat Bisa Selamatkan Ribuan Nyawa
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan pepohonan dan taman kota mampu menurunkan suhu lingkungan hingga beberapa derajat Celsius saat gelombang panas terjadi. Penurunan suhu tersebut dinilai sangat penting bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, maupun penderita penyakit kronis.
Selain mendinginkan udara, ruang hijau juga membantu menyerap air hujan sehingga mengurangi risiko banjir, memperbaiki kualitas udara, menyimpan karbon, menjaga keanekaragaman hayati, hingga meningkatkan kesehatan fisik dan mental masyarakat.
Namun para peneliti menilai banyak kota masih lebih fokus mengejar target jumlah pohon yang ditanam daripada memastikan pohon tersebut tumbuh sehat selama puluhan tahun.
Akibatnya, kawasan permukiman yang lebih kaya umumnya memiliki pepohonan rindang dan taman berkualitas, sedangkan wilayah berpenghasilan rendah justru menghadapi suhu lebih panas dan minim ruang terbuka hijau.
Peneliti menegaskan solusi utama bukan sekadar menanam lebih banyak pohon, melainkan menetapkan standar nasional maupun daerah mengenai luas ruang hijau, tutupan kanopi pohon, kualitas tanah, pendanaan pemeliharaan jangka panjang, hingga pemantauan berkala.
Menurut mereka, investasi pada ruang hijau jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus ditanggung akibat gelombang panas, banjir, polusi udara, maupun meningkatnya masalah kesehatan masyarakat.
Studi menyimpulkan bahwa kota-kota masa depan tidak lagi cukup dinilai dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi dari kemampuan menjaga ruang hijau tetap hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat selama bertahun-tahun. (*)
Sumber: Live Science