Selasa, 30/06/2026 17:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Otoritas keamanan Monako dan Prancis menggelar operasi pengejaran besar-besaran lintas batas setelah sebuah bom paket meledak dan melukai tiga orang di kawasan pemukiman mewah para miliarder, Senin (29/6) malam.
Tersangka diduga kuat telah melarikan diri ke wilayah Prancis memanfaatkan ketiadaan pos pemeriksaan perbatasan kedua negara.
Tersangka diduga telah melarikan diri ke Prancis, demikian disampaikan Menteri Negara Monako, Christophe Mirmand, kepada BFM TV.
Kerajaan tersebut dikelilingi oleh laut di satu sisi dan Prancis di sisi lainnya, serta tidak ada pemeriksaan perbatasan di antara kedua negara. Wilayah Italia juga berada di dekatnya.
ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Serangan Mematikan di Iran, Teheran Bakal Membalas
Lebih 100 Orang Tewas dalam Serangan Dekat Makam Garda Iran Soleimani
Puluhan Tentara Niger Tewas Diserang Teroris Dekat Perbatasan Mali
Mirmand mengatakan tiga korban utama masih dirawat di rumah sakit. Ia menambahkan bahwa seorang wanita, yang tidak disebutkan namanya, mengalami luka paling parah. Surat kabar lokal Monaco Matin melaporkan bahwa sebagian anggota tubuh bagian bawah wanita tersebut hancur akibat ledakan.
Media Prancis dan Ukraina menyebut target serangan itu adalah Vadym Yermolaiev, yang dulunya merupakan pengembang real estat di kota Dnipro, Ukraina. Ia meninggalkan Ukraina beberapa tahun lalu, melepaskan kewarganegaraan Ukrainanya, dan menjadi warga negara Siprus.
Yermolaiev dijatuhi sanksi oleh Ukraina pada Desember 2023. Media Ukraina menyebut sanksi itu diberikan karena ia menjalankan bisnis di Krimea yang diduduki Rusia.
Dalam sebuah wawancara dengan media Ukraina RBC-Ukraine pada tahun 2024, Yermolaiev membantah bahwa ia memiliki atau menjalankan bisnis apa pun di Krimea.
Mirmand tidak mengonfirmasi maupun membantah apakah Yermolaiev merupakan target dari serangan tersebut.
Ketika ditanya mengenai kondisi kesehatan korban, Mirmand mengatakan bahwa korban akan mendapatkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit di Nice atau Marseille yang berada di dekat kawasan tersebut. Seorang pria muda dilaporkan mengalami luka yang tidak terlalu serius, tambahnya.
Otoritas lokal lainnya menolak untuk mengonfirmasi identitas para korban atau memberikan rincian lebih lanjut mengenai penyelidikan ini.
Sementara itu, Pangeran Albert dari Monako menggambarkan serangan itu sebagai "tindakan yang keji", yang menurutnya mengejutkan semua orang di Monako.
Monako bekerja sama erat dengan otoritas Prancis untuk melacak keberadaan tersangka, katanya.
Media Prancis melaporkan bahwa citra pengawasan video (CCTV) memperlihatkan seorang pria menjatuhkan ransel di pintu masuk sebuah bangunan tempat tinggal sesaat sebelum ledakan terjadi.
Monaco Matin menampilkan foto CCTV pria yang disebut sebagai tersangka, mengenakan topi dan atasan gelap serta menyandang tas putih di bahunya.
BFM TV menggambarkan perangkat eksposif tersebut sebagai "bom paket", mengutip pernyataan dari jaksa agung kerajaan tersebut.
Pada bulan Februari, seseorang yang diduga membunuh mantan politisi Ukraina pro-Rusia di luar sebuah sekolah di pinggiran kota kaya Madrid pada tahun 2025, berhasil ditangkap di Jerman.
Sumber: Arabnews
Keyword : Bom MonacoSerangan TerorisBom Paket