Selasa, 30/06/2026 18:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sebelum menjelma menjadi kota megapolitan yang dipadati gedung pencakar langit dan riuh macet kendaraan, Jakarta hanyalah sebuah bandar pelabuhan kecil yang tenang di muara Sungai Ciliwung.
Pelabuhan kuno bernama Sunda Kelapa inilah yang menjadi cikal bakal, titik nol, sekaligus saksi bisu perjalanan panjang perebutan hegemoni yang membentuk wajah ibu kota Indonesia hari ini.
Kisah Jakarta tidak dimulai dari beton-beton modern, melainkan dari aroma kayu manis, lada, dan derit kapal-kapal kayu yang bersandar di dermaga Sunda Kelapa berabad-abad silam.
Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di Nusantara, Sunda Kelapa sudah memegang peran vital.
Menatap Riwayat Kota Tua Jakarta di Era Kolonial
Menelusuri Sejarah Perkembangan Ondel-ondel di Jakarta
Menelusuri Jejak Kejayaan Kereta Kota Jakarta dari Masa ke Masa
Pada abad ke-12 hingga ke-16, pelabuhan ini merupakan aset paling berharga milik Kerajaan Sunda (Pajajaran), sebuah kerajaan bercorak Hindu yang berpusat di pedalaman Bogor.
Sebagai pintu gerbang utama kerajaan menuju dunia luar, Sunda Kelapa berkembang menjadi pasar internasional yang sangat sibuk. Kapal-kapal dagang dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, bahkan hingga dari India, Tiongkok, dan Arab kerap merapat di sini.
Mereka menukarkan porselen, sutra, dan kain tenun dengan komoditas emas, pakaian, dan yang paling primadona: lada berkualitas tinggi hasil bumi Sunda.
Karena posisinya yang strategis dan kekayaan lada yang melimpah, pelabuhan ini mulai menarik perhatian kekuatan global, termasuk bangsa Portugis yang baru saja menaklukkan Malaka pada tahun 1511.
Perjanjian Internasional Pertama dan Ancaman dari Demak
Menyadari adanya ancaman ekspansi dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, Raja Sunda memutuskan untuk menjalin persahabatan dengan Portugis. Pada tahun 1522, utusan Portugis bernama Henrique Leme datang ke Sunda Kelapa.
Pertemuan ini menghasilkan sebuah perjanjian kerja sama ekonomi dan militer. Sebagai tanda kesepakatan, kedua belah pihak menanam sebuah prasasti batu yang dikenal sebagai Padrão Sunda Kelapa (kini disimpan di Museum Nasional).
Lewat perjanjian ini, Portugis diizinkan membangun gudang dan benteng di Sunda Kelapa, dengan imbalan bantuan militer untuk melindungi Kerajaan Sunda.
Namun, aliansi ini dipandang sebagai ancaman serius oleh Kesultanan Demak. Mereka khawatir kehadiran Portugis akan menyumbat jalur perdagangan dan menyebarkan pengaruh politik barat di Pulau Jawa.
Jatuhnya Sunda Kelapa dan Lahirnya Jayakarta
Sebelum benteng Portugis sempat berdiri kokoh, Kesultanan Demak mengutus panglima perang muda yang cerdas bernama Fatahillah (Fadthilah Khan) untuk merebut Sunda Kelapa. Memimpin armada gabungan dari Demak dan Cirebon, Fatahillah menyerbu pelabuhan tersebut.
Pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan Fatahillah berhasil merebut penuh Sunda Kelapa dan memukul mundur armada Portugis yang terlambat datang. Hari kemenangan yang gemilang itu dirayakan dengan mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti "Kota Kemenangan" atau "Kejayaan yang Sempurna".
Tanggal bersejarah inilah yang hingga kini kita peringati setiap tahunnya sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta.
Menjadi Batavia hingga Jakarta
Nama Jayakarta bertahan hampir satu abad sebelum akhirnya VOC (Kongsi Dagang Hindia Belanda) di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen menghancurkannya pada tahun 1619.
Di atas puing-puing Jayakarta, Belanda membangun kota baru berarsitektur Eropa yang dinamai Batavia.
Fungsi pelabuhan Sunda Kelapa digantikan dan diperluas guna menampung ambisi kolonialisme Belanda selama 3,5 abad, sebelum akhirnya nama kota ini diubah menjadi Jakarta pada masa pendudukan Jepang tahun 1942.