Studi Ungkap Badai Matahari Bisa Ubah Cuaca Bumi dalam Hitungan Jam

Sabtu, 27/06/2026 19:55 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini prakiraan cuaca lebih banyak dipengaruhi faktor-faktor di Bumi seperti front dingin, tekanan udara rendah, atau pergerakan massa udara. Namun, penelitian terbaru mengungkap bahwa aktivitas Matahari ternyata juga dapat mengubah pola cuaca di Bumi dalam waktu sangat singkat.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters menemukan bahwa badai matahari atau solar storms mampu memengaruhi curah hujan dan salju di sebagian wilayah Amerika Utara hanya dalam hitungan jam hingga satu hari setelah peristiwa tersebut terjadi.

Dikutipdari Earth, temuan ini sekaligus menantang pandangan lama yang selama ini menganggap pengaruh Matahari terhadap cuaca hanya terjadi secara perlahan dalam siklus jangka panjang.

Profesor emeritus fisika dari University of New Hampshire, Joachim Raeder, mengatakan para ilmuwan selama puluhan tahun memang telah mengetahui bahwa aktivitas Matahari dapat memengaruhi iklim Bumi. Namun, dampak cepat dari satu badai matahari terhadap cuaca belum pernah dibuktikan secara jelas.

"Yang menarik adalah sekarang kami melihat dampak jangka pendek yang jauh lebih kuat, terjadi hanya dalam satu hari setelah badai matahari," kata Raeder.

Dalam penelitian tersebut, Raeder menganalisis data intensitas badai geomagnetik selama 67 tahun dan menggabungkannya dengan rekonstruksi atmosfer Amerika Utara yang tersedia per jam.

Dengan bantuan model komputer, tim peneliti kemudian mencari anomali cuaca yang muncul sesaat setelah badai geomagnetik terjadi.

Hasilnya mengejutkan. Peneliti menemukan bahwa badai geomagnetik besar, yang terjadi ketika partikel dan energi dari Matahari menghantam medan magnet Bumi, dapat menekan curah hujan dan salju secara signifikan.

Dua wilayah menunjukkan perubahan paling mencolok, yakni Pegunungan Rocky di Amerika Serikat bagian barat serta kawasan sekitar Teluk Hudson di Kanada utara.

Di kedua wilayah tersebut, hujan dan salju tercatat menurun secara nyata setelah badai matahari terjadi. Semakin kuat badai yang terjadi, semakin besar pula penurunan curah hujan dan salju yang diamati.

"Efeknya begitu konsisten sehingga sulit dianggap hanya sebagai kebetulan statistik," tulis para peneliti.

Yang paling mengejutkan, efek cuaca jangka pendek akibat badai matahari ini ternyata jauh lebih besar dibanding pengaruh jangka panjang aktivitas Matahari terhadap suhu global yang selama ini dipelajari para ilmuwan.

Menurut penelitian, dampak cuaca yang terdeteksi bisa mencapai hingga 100 kali lebih besar dibanding pengaruh lambat siklus Matahari terhadap iklim global.

Peneliti juga menemukan bahwa waktu terjadinya badai berperan penting.

Badai geomagnetik yang terjadi pada musim panas dan musim dingin cenderung memiliki dampak lebih kuat terhadap penurunan hujan dan salju dibandingkan badai yang muncul pada musim semi atau gugur.

Pada musim dingin, pola yang muncul bahkan lebih kompleks. Setelah badai matahari kuat, suhu di pesisir barat Amerika Serikat justru meningkat, sementara sebagian besar wilayah lain di negara itu mengalami pendinginan.

Meski mekanisme pasti yang menyebabkan fenomena ini masih belum sepenuhnya dipahami, temuan tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan model prakiraan cuaca dan iklim.

Selama ini, banyak model cuaca kesulitan memasukkan pengaruh cuaca antariksa atau space weather ke dalam perhitungannya.

Dengan ditemukannya hubungan langsung antara badai matahari dan perubahan cuaca jangka pendek, para ilmuwan berharap prakiraan cuaca jangka panjang dapat dibuat lebih akurat.

Peningkatan akurasi ini dinilai penting bagi berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sumber daya air, pertanian, hingga perencanaan energi.

Penelitian ini juga memunculkan pertanyaan baru: apakah pengaruh jangka panjang Matahari terhadap iklim Bumi sebenarnya merupakan akumulasi dari banyak badai matahari yang terjadi secara individual.

Jika hipotesis tersebut terbukti, peran Matahari dalam membentuk cuaca dan iklim Bumi mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan ilmuwan. (*)

TERKINI
Rudianto Lallo: Kenaikan Kepercayaan Publik Modal Polri Perkuat Reformasi Asal Usul Jakarta: Dari Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Jadi Ibu Kota Rosan Ajak Perguruan Tinggi Implementasikan Riset ke Industri Hilirisasi Ini 9 Hal Paling Identik dengan Jakarta, Nomor 6 Sulit Dipisahkan