Jum'at, 26/06/2026 02:36 WIB
Sorong, Jurnas.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengajak pemerintah Provinsi Papua Barat untuk memanfaatkan program peremajaan sawit rakyat, yang sejauh ini telah disalurkan sebesar Rp13 triliun ke berbagai daerah.
Perwakilan BPDP, Dwi Nusantara, dalam Workshop Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit di Sorong, Papua Barat Daya pada Rabu (24/6) kemarin mengatakan pemanfaatan program tersebut di Papua secara umum masih rendah.
"Papua Barat Daya saat ini belum ada realisasi program peremajaan sawit rakyat, sementara di Papua sekitar 600 hektare dengan dukungan dana sekitar Rp18 miliar dan Papua Barat sekitar Rp93 miliar," kata Dwi.
"Angka ini masih sangat jauh dibandingkan daerah lain seperti Aceh, Riau, maupun Sumatera Selatan," dia menambahkan.
BPDP Ajak UKMK Magelang Optimalkan Peluang Bisnis Turunan Sawit
BPDP Dorong Gen Z Manfaatkan Produk Hilirisasi Kelapa Sawit
GAPKI Keluhkan Sulitnya Akses Dana Peremajaan Sawit Rakyat
Dwi menyatakan bahwa dana tersebut bersifat hibah, dan dapat dimanfaatklan oleh kelompok pekebun yang memenuhi syarat. Apalagi, dana hibah yang dikelola BPDP berasal dari hasil ekspor sawit dan mengembalikannya kembali untuk mendukung pengembangan sektor sawit, khususnya bagi pekebun rakyat.
"Bentuk komitmen kami, BPDP hadir di Papua untuk membantu, mendukung, dan mendorong industri sawit di daerah. Kelapa sawit merupakan harta nasional dan berkah Tuhan bagi Indonesia," ujar dia.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Papua Barat Daya, Suardi Thamal, dalam sambutannya menyampaikan bahwa daerah kategori 3T memang masih menghadapi berbagai keterbatasan, namun memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikembangkan.
"Salah satu sektor yang memiliki prospek strategis adalah perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit terbukti menjadi komoditas unggulan yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, menggerakkan UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah," kata Suardi.
Dia menilai pengembangan perkebunan sawit rakyat masih menghadapi tantangan, salah satunya adalah penggunaan benih yang belum berkualitas. Karena itu, kegiatan workshop dan pasar benih sawit menjadi sarana penting untuk meningkatkan kapasitas petani sekaligus memperluas akses terhadap benih unggul yang legal, bermutu, dan bersertifikat.
"Saya berharap melalui kegiatan ini para petani memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai teknik budidaya, pemilihan benih unggul, pengelolaan kebun yang efektif, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," dia melanjutkan.
Lebih lanjut, Suardi mengatakan bahwa Pemprov Papua Barat Daya, mendukung pengembangan hilirisasi industri perkebunan kelapa sawit yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dengan tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan, perlindungan hak-hak masyarakat adat, serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi petani, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta memperkuat perekonomian daerah.
"Melalui kegiatan ini saya berharap lahir inovasi serta rekomendasi yang mendukung perubahan nyata bagi perkembangan kelapa sawit di Provinsi Papua Barat Daya sehingga mampu memperkuat kesejahteraan petani dan pengembangan ekonomi daerah. Kelapa sawit potensinya sangat besar terutama dalam memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar dia.
Sementara itu, Pemimpin Umum Media Perkebunan sekaligus Direktur Jenderal Perkebunan periode 2016–2018, Bambang, mengatakan bahwa saat ini pemerintah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pengembangan sawit rakyat melalui berbagai program yang didanai BPDP.
Menurut dia, pemanfaatan program-program BPDP di daerah masih perlu ditingkatkan karena respons masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk daerah 3T, masih relatif rendah. Dia menjelaskan bahwa salah satu titik kritis pengembangan perkebunan sawit terletak pada penggunaan benih.
"Kalau salah di benih, sudah habis. Karena itu hari ini banyak bicara tentang benih dan penyedia benih tersertifikasi juga hadir di sini," kata Bambang.
Diketahui, kegiatan workshop ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) bekerja sama dengan BPDP. Ketua Panitia Pelaksana yang juga Sekretaris Jenderal POPSI, Hendra J. Purba, berharap workshop seri kedua ini dapat memberikan edukasi kepada petani terkait budidaya, penggunaan benih unggul, serta pengelolaan kebun sawit yang efektif.
Menurutnya, meskipun keberadaan perkebunan sawit di Papua Barat Daya masih menuai berbagai pandangan, komoditas tersebut telah terbukti memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah.
"Kelapa sawit telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan membuka lapangan kerja, seperti yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra. Selain itu, sawit juga menghasilkan berbagai produk turunan, seperti olein untuk minyak goreng dan stearin yang digunakan sebagai bahan baku margarin, kosmetik, dan berbagai produk lainnya," ujar dia.