Rabu, 24/06/2026 10:55 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf menyampaikan pihaknya bakal mengevaluasi program city tour atau tur kota menyusul adanya indikasi kelelahan yang dialami sebagian peserta haji akibat padatnya aktivitas pra dan pasca-puncak ibadah haji.
“Kami amati lagi memang pasca-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) banyak yang langsung diajak city tour, diajak ke mana-mana, yang membuat mereka lelah, sehingga kami akan mengevaluasi lagi kebijakan kita tentang city tour,” ujar Menhaj Irfan di Jakarta, Selasa (23/6).
Ia menyampaikan sejumlah peserta haji diketahui langsung mengikuti kegiatan kunjungan ke berbagai lokasi sebelum maupun setelah menyelesaikan rangkaian Armuzna. Aktivitas tersebut mencakup perjalanan ke sejumlah destinasi di luar Makkah, seperti Thaif dan Jeddah.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada kesehatan jamaah, terutama mengingat tingginya tingkat kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah haji yang padat.
350 Jemaah Haji Wafat, Kemenhaj Bakal Perketat Istithaah Kesehatan
62 Persen Jemaah Tiba di Tanah Air, Kemenhaj Minta Spirit Haji Dijaga
85.290 Jemaah Haji Tiba di Tanah Air, Kemenhaj Ingatkan Makna Kemabruran
“Ini dapat sangat mempengaruhi kesehatan jamaah kita,” ucap Menhaj Irfan.
Menhaj menegaskan aspek kesehatan dan keselamatan jamaah akan menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan kebijakan penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya.
Menurut dia, hingga hari ini ada 350 orang yang wafat di Arab Saudi. Mayoritas mereka yang wafat karena pneumonia dan faktor kelelahan karena aktivitas berat tanpa dibarengi kondisi fisik yang prima.
“Sebagian, sebagian karena pernapasan, Pneumonia. Tapi juga sebagian besar karena kelelahan. Karena itu kita pantau sebagian besar yang meninggal itu, yang meningkat itu setelah pasca-Armuzna,” ujar Menhaj Irfan.
Di samping itu Kemenhaj juga akan memperkuat istitha`ah kesehatan demi menekan angka perawatan dan meninggal dunia yang saat ini jumlahnya masih tinggi.
“Selama ini kita sudah punya standar kesehatan istitha`ah, hanya saja memang kita akui ada perbedaan pelaksanaannya di beberapa daerah. Ada daerah yang bagus menjalankannya, ada yang kurang bagus, sehingga ini juga menjadi salah satu tugas kami untuk bisa menyamaratakan standar istitha`ah kesehatan kita,” kata Menhaj Irfan.