Kiai Utama Tolak Manuver Gus Ipul Memecah NU Kultural dengan Pengurus

Sabtu, 20/06/2026 21:15 WIB

Kediri, Jurnas.com - Manuver Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga Ketua Panitia Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 , Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berpotensi membahayakan NU.

Apalagi Gus Ipul ditenggarai memasukan materi-materi yang dapat mengurangi, menggeser, dan menjauhkan hubungan historis NU dengan para Masyayikh dan pondok pesantren.

Menanggapi manuver tersebut, 13 ulama ternama, Sabtu (20/6) malam, berkumpul, mengeluarkan seruan jelang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pesantren Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Ulama tersebut, 1. KH. Nurul Huda Jazuli (PP. Ploso/Mustasyar PBNU), 2. KH. Anwar Manshur (PP. Lirboyo/ Mustasyar PBNU), 3. ⁠KH. A. Kafabihi Mahrus (PP. Lirboyo/ Rais Syuriyah PBNU, 4. ⁠Prof. Dr. KH. Ma`ruf Amin (PP An Nawawi Tanara Banten/Mustasyar PBNU), 5. ⁠Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (PP. Al-Tsaqafah Jakarta/ Mustasyar PBNU), 6. KH. R. Muhammad Khalil As`ad (PP Wali Songo Situbondo), 7. KH. Abdullah Ubab Maimoen (PP. Al Anwar Sarang/ Mustasyar PBNU), 8. ⁠KH. Ali Akbar Marbun (PP. Al-Kautsar Medan/Syuriah PBNU), 9. KH. Ubaidillah Shodaqoh (PP. Al-Itqan Tlogosari/Rais Syuriyah PWNU Jateng), 10. ⁠KH. Ali Kholil (Rais Syuriyah PWNU Kaltim), 11. Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim (PP. Amanatul Ummah/Ketum PERGUNU PBNU), 12. KH. Ah. Syatibi Hambali (PP. Qotrotul Falah/ Rais Syuriah PWNU Banten) dan 13. KH. Mas`ud Masduqi (Rais Syuriyah PWNU DIY).

Menurut Juru Bicara Forum pertemuan tersebut KH Abdurrahman Al Kautsar atau Gus Kautsar dan KH Fahim Royani atau Gus Fahim, forum tersebut berlangsung dengan penuh kekeluargaan, ukhuwah Islamiyah, dan tanggung jawab kejam’iyahan.

"Setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, serta dengan memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama para kiai utama berkumpul di sini," kata Gus Fahim.

Menurutnya, hasil pertemuan tersebut menghasilkan tiga poin seruan, yakni. Pertama, (1). Para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren.

Dalam kaitan itu, para masyayikh meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter AHWA sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Oleh karena itu usulan penambahan syarat calon anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA) harus pengurus syuriyah dan didasarkan representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian juga, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga harus dibatalkan.

Kedua (2). ⁠Para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah. Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Ketiga (3). Para masyayikh menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.

"Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan," katanya.

"Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, mempersatukan hati seluruh warganya, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, masyayikh, santri, dan seluruh pengabdi jam’iyah."

TERKINI
Kiai Utama Tolak Manuver Gus Ipul Memecah NU Kultural dengan Pengurus Trump Perkirakan Iran Setujui Kesepakatan dalam 60 Hari Gandeng Unimed, ASDP Perkuat Kapasitas Perempuan Pesisir Lagi-lagi Pemadaman Listrik di Bandung, Warga Terganggu, PLN Memohon Maaf