Selasa, 04/08/2026 23:37 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Perubahan iklim diperkirakan akan mengurangi produksi padi dunia jauh lebih besar daripada yang selama ini diprediksi.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa setiap kenaikan suhu rata-rata 1 derajat Celsius berpotensi memangkas hasil panen padi global hingga 8,1 persen, lebih dari dua kali lipat dibandingkan perkiraan model iklim sebelumnya yang hanya sekitar 3,8 persen.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena padi merupakan makanan pokok bagi lebih dari separuh populasi dunia. Jika proyeksi ini terbukti, ketahanan pangan global akan menghadapi tantangan yang lebih besar di tengah pemanasan bumi yang terus berlangsung.
Dikutip dari earth, penelitian yang dipimpin Yiwei Jian dari Helmholtz Centre for Environmental Research di Jerman bersama Peking University ini menemukan bahwa suhu tinggi pada fase-fase tertentu pertumbuhan padi jauh lebih berbahaya dibandingkan kenaikan suhu rata-rata sepanjang musim tanam.
Studi Ungkap Perubahan Iklim Bikin Kehidupan di Kota Makin Tidak Setara
Pemerintah Diminta Siapkan Mitigasi Darurat Hadapi Ancaman El Nino 2026
Hutan yang Memanas Paling Cepat Ternyata Tak Maksimal Lawan Perubahan Iklim
Masa paling rentan terjadi ketika tanaman memasuki fase pembungaan dan pengisian bulir. Pada periode singkat ini, setiap hari dengan suhu di atas 30 derajat Celsius dapat mengurangi hasil panen sekitar 1,1 hingga 1,8 persen. Sebaliknya, hari-hari dengan suhu lebih rendah hampir tidak memberikan dampak terhadap produksi.
Selama ini, sebagian besar model prediksi pangan dunia menganggap dampak suhu panas hanya memengaruhi pertumbuhan tanaman secara umum. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan kerusakan terbesar justru terjadi ketika panas mengganggu proses pembentukan biji.
Tim peneliti membandingkan hasil di lapangan dengan tujuh model tanaman global yang selama ini digunakan untuk memprediksi produksi pangan. Hasilnya menunjukkan hampir seluruh model tersebut gagal menangkap dampak nyata dari gelombang panas.
Dalam kondisi suhu antara 30 hingga 35 derajat Celsius, model hanya memperkirakan penurunan hasil panen sekitar 0,1–0,4 persen per hari, sementara pengamatan di lapangan menunjukkan penurunannya mencapai 0,9 persen per hari.
Menurut salah satu penulis penelitian, Christoph Müller dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, masyarakat biasanya lebih memperhatikan suhu maksimum harian daripada suhu rata-rata.
"Ketika melihat prakiraan cuaca musim panas, yang diperhatikan adalah suhu tertinggi harian, bukan suhu rata-ratanya," ujarnya.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, para peneliti melakukan percobaan pada 214 pasangan lahan yang identik.
Satu lahan dipanaskan menggunakan pemanas inframerah, sementara lahan lainnya dibiarkan dalam kondisi normal. Seluruh percobaan dilakukan di sawah beririgasi terbuka sehingga mendekati kondisi pertanian sebenarnya.
Di 12 lokasi penelitian di China, suhu lahan dinaikkan antara 0,5 hingga 4 derajat Celsius sepanjang musim tanam. Hasilnya sangat bervariasi. Di beberapa lokasi, produksi padi turun hingga 31,3 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius, sementara di lokasi lain justru terjadi sedikit peningkatan.
Namun, lebih dari 70 persen lokasi menunjukkan bahwa hari-hari bersuhu di atas 30 derajat Celsius menjadi penyebab utama penurunan hasil panen.
Penelitian menunjukkan tanaman yang terkena panas ekstrem masih mampu tumbuh hampir normal. Masalah terbesar terjadi ketika energi yang dihasilkan tanaman gagal dialihkan menjadi bulir padi.
Paparan suhu tinggi saat pembungaan menyebabkan lebih sedikit bunga berkembang menjadi gabah. Selain itu, distribusi nitrogen menuju bulir juga menurun sehingga hasil panen berkurang meski ukuran tanaman relatif tidak berubah.
Sebaliknya, panas yang terjadi pada fase awal pertumbuhan memang mengurangi fotosintesis dan luas daun, tetapi dampaknya terhadap hasil panen jauh lebih kecil dibandingkan saat tanaman memasuki fase reproduksi.
Setelah memperbaiki model menggunakan data lapangan, para peneliti menghitung ulang dampak pemanasan global terhadap berbagai wilayah penghasil padi.
Di Pakistan, India, dan Bangladesh, estimasi kehilangan hasil panen meningkat dari 2,1 persen menjadi 6,6 persen untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius.
Sementara di Thailand, Filipina, dan Myanmar, proyeksi kerugian naik dari 3,7 persen menjadi 7,7 persen. Perbedaan proyeksi di China dan Jepang relatif lebih kecil, yakni kurang dari dua poin persentase.
Meski demikian, peneliti menekankan hasil penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Seluruh percobaan dilakukan di sawah beririgasi. Air di lahan sawah dapat membantu mendinginkan tanaman melalui proses penguapan sehingga suhu daun sebenarnya bisa lebih rendah dibandingkan suhu udara.
Sebaliknya, lahan tadah hujan diperkirakan lebih rentan terhadap gelombang panas, meski besarnya dampak masih perlu diteliti lebih lanjut. Selain itu, setiap wilayah kemungkinan memiliki ambang toleransi suhu yang berbeda karena varietas padi dan teknik budidaya terus berkembang.
Para peneliti menilai model prediksi pangan di masa depan perlu memperhitungkan kegagalan pembentukan bulir akibat panas ekstrem, bukan hanya penurunan pertumbuhan tanaman. Tanpa pembaruan tersebut, risiko penurunan produksi padi global akibat perubahan iklim dikhawatirkan akan terus diremehkan. (*)
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
Sumber: Earth