Wamenperin: Industri Tekstil Kokoh Hadapi Gejolak Rupiah dan Pasar Modal

Kamis, 11/06/2026 18:20 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak pasar modal tidak memberikan dampak signifikan terhadap industri nasional, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza, ketika berkunjung ke PT Gajah Angkasa Perkasa, di Bandung, Jawa Barat pada Kamis (11/6).

Kunjungan Wamen Riza dalam rangka mengecek sejumlah sektor industri, termasuk industri tekstil, di tengah kekhawatiran publik terkait dampak melemahnya rupiah dan ketidakstabilan pasar modal saat ini.

“Belakangan banyak isu bahwa kenaikan mata uang asing dan penekanan rupiah kondisi pasar seolah-olah pengaruhnya besar pada industri. Tapi, kita tahu bahwa justru sekarang sektor-sektor tertentu mengalami panen peluang,” ujar Wamen Riza.

“Kelihatan bahwa punya fundamental yang baik, dan hampir tidak terpengaruh oleh lemahnya atau tidak stabilnya nilai tukar rupiah maupun pasar modal. Saya juga melihat industri nasional kita memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi situasi yang tidak stabil secara global,” dia menambahkan.

Dalam kunjungan ini, Wamenperin menengok langsung proses produksi di PT Gajah Angkasa Perkasa. Dia sekaligus mengapresiasi pencapaian industri garmen tersebut yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, namun juga merambah pasar mancanegara.

Dengan demikian, lanjut Wamen Riza, ini membuktikan bahwa produk-produk tekstil Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk-produk impor, baik secara kualitas maupun harga.

“Kita bisa bersaing dengan harga tekstil yang diproduksi negara lain bahkan dengan harga di pasar. Ini membanggakan. Tentu, pemerintah juga akan terus mendukung industri tekstil di Indonesia,” kata Wamen Riza.

Lebih lanjut, Wamenperin mendorong industri tekstil untuk memanfaatkan tantangan geopolitik untuk meningkatkan ekspansi pasar ekspor. Salah satunya, melalui perjanjian dagang RI dengan Eropa, yang memberikan bea masuk nol persen untuk produk tekstil Indonesia.

“Pemerintah juga mengatur supaya di border betul-betul ketat. Presiden sudah memerintahkan agar bea cukai jadi kekuatan ekonomi kita, dengan membatasi barang ilegal, tidak memenuhi standar, dan barang yang merusak pasar dalam negeri,” ujar Wamen Riza.

Sementara itu, Direktur Gajah Group, Dedy Zein mengatakan bahwa PT Gajah Angkasa Perkasa saat ini mampu memproduksi total 3 juta meter produk garmen dalam sebulan, guna memenuhi pasar dalam negeri dan ekspor, khususnya kebutuhan seragam militer dan pemerintahan di Malaysia, Jepang, dan India.

Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 85 persen, Dedy optimistis pihaknya dapat terus menambah negara tujuan ekspor, dengan beberapa target termasuk Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, Inggris, Spanyol, Korea Selatan, Vietnam, Papua Nugini, dan Kanada.

“Kami berharap ke depannya bisa mengekspor bahan jadi, specialty menjadi uniform (seragam) militer dan pemerintah di negara lain,” kata Dedy.

Diketahui, selain baju seragam, PT Gajah Angkasa Perkasa dalam lini usahanya juga memproduksi berbagai produk garmen, antara lain sepatu, tanda pangkat, kain batik, hingga sepatu.

Adapun dalam kunjungan Wamen Riza kali ini, turut dihadiri oleh Direktur PT Gajah Angkasa Perkasa Jimmy Gunardi, Direktur Garuda Zein Premium Harry Sena, dan Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Rizky Aditya Wijaya.

TERKINI
63.813 Jemaah Haji Tiba di Tanah Air, Kemenhaj Ingatkan Spirit Kemabruran Meski Saling Serang, Perundingan AS-Iran Dikabarkan Terus Berjalan Kementrans Siapkan Bali jadi Pusat Promosi Kawasan Transmigrasi Indonesia Demo Cipayung Plus, Desak Pencopotan Menkeu hingga Tolak Kenaikan Harga BBM