Legislator PKB Optimistis Pariwisata Tetap Tumbuh Meski Rupiah Tertekan

Rabu, 03/06/2026 17:26 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sekaligus mendorong penerimaan devisa dari sektor pariwisata.

Menurut dia, kondisi kurs rupiah yang lebih lemah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing, terutama yang menggunakan dolar Amerika Serikat maupun mata uang kuat lainnya.

“Sejumlah data menunjukkan wisatawan dari negara-negara tetangga dan kawasan Asia mengalami tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Sektor pariwisata juga diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap penerimaan devisa negara,” kata Chusnunia di Jakarta, Rabu (3/6).

Politikus PKB itu menjelaskan, keuntungan nilai tukar tersebut tidak hanya berdampak positif bagi sektor perhotelan dan transportasi udara, tetapi juga mendorong wisatawan untuk memperpanjang masa tinggal mereka selama berada di Indonesia.

Ia menilai wisatawan asing yang memperoleh keuntungan dari kurs yang menguntungkan cenderung memiliki daya beli lebih tinggi. Dampaknya, belanja mereka untuk kebutuhan akomodasi, kuliner, hiburan, hingga produk-produk lokal juga meningkat.

“Ketika wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar akibat kurs yang menguntungkan, pengeluaran mereka untuk akomodasi, kuliner, hiburan hingga produk lokal cenderung meningkat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Chusnunia mengatakan peningkatan pengeluaran wisatawan berpotensi mendongkrak devisa sektor pariwisata sekaligus menggerakkan berbagai sektor pendukung lainnya, seperti restoran, transportasi lokal, pusat oleh-oleh, pelaku ekonomi kreatif, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi peluang bagi daerah-daerah yang selama ini menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu motor penggerak ekonomi.

Meski demikian, Chusnunia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah juga menghadirkan tantangan bagi pelaku usaha pariwisata yang masih bergantung pada barang-barang impor.

“Sejumlah pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor, seperti makanan premium, minuman impor, hingga perlengkapan hotel tertentu, tetap menghadapi kenaikan biaya operasional,” katanya.

Karena itu, ia berharap nilai tukar rupiah dapat kembali menguat sehingga perekonomian nasional semakin sehat dan pertumbuhan sektor pariwisata dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Dalam situasi sekarang, seluruh pelaku industri pariwisata harus tetap optimistis melihat peluang yang muncul di tengah berbagai tantangan global. Kita harus bergandeng tangan untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata nasional,” pungkasnya.

 

 

 

TERKINI
PBB Desak Israel Cabut Pembatasan di Kamp Pengungsian Tepi Barat 21 Orang Lebih Tewas dalam Kebakaran Hotel di New Delhi China Minta AS dan Iran Patuhi Kesepakatan Gencatan Senjata Kejagung Tetapkan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Tersangka Korupsi