Senin, 01/06/2026 23:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Transmigrasi (Mentrans) RI, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, akan mendampingi Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Wang Lutong, dalam kunjungan kerja ke sejumlah kawasan transmigrasi strategis di Indonesia.
Kunjungan tersebut akan dilaksanakan di Papua Selatan, Papua Barat Daya, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari penjajakan peluang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, pendidikan vokasi, perdagangan, investasi, serta pengembangan pariwisata.
Mentrans Iftitah menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan langkah konkret untuk memperkenalkan potensi kawasan transmigrasi kepada mitra internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi yang dapat mempercepat pembangunan kawasan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kawasan transmigrasi memiliki lahan, sumber daya manusia, dan potensi ekonomi yang sangat besar. Yang kami bangun bukan sekadar kawasan permukiman, tetapi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat,” ujar Iftitah.
Kementrans Gandeng Folago Dukung Penguatan UMKM Kawasan Transmigrasi
Viva Yoga: 61 Bupati Ajukan Proposal Pembukaan Kawasan Baru Transmigrasi
Pemerintah Ajak Anak Muda Jadi Pelopor Pembangunan Kawasan Transmigrasi
Agenda pertama akan dilaksanakan di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kawasan ini merupakan salah satu sentra produksi pangan nasional dengan hamparan sawah lebih dari 60 ribu hektare yang menjadi bagian penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional.
Selain meninjau kawasan pertanian, rombongan juga akan mengunjungi pusat kota Kawasan Transmigrasi Salor yang kini berkembang sebagai bagian penting dari Ibu Kota Provinsi Papua Selatan.
Dalam kunjungan tersebut, kedua pihak akan meninjau lokasi yang direncanakan menjadi pusat kerja sama pengembangan kawasan melalui hibah Pemerintah Tiongkok, antara lain untuk pembangunan Pusat Pengembangan dan Riset Padi.
Sekolah Vokasi Pertanian, serta Pusat Pengentasan Kemiskinan yang diharapkan dapat menjadi model pembangunan berbasis peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Selanjutnya, rombongan akan mengunjungi kawasan transmigrasi di Raja Ampat, Papua Barat Daya. Kunjungan ini bertujuan melihat potensi pengembangan ekonomi kawasan sekaligus menjajaki peluang kerja sama promosi pariwisata Raja Ampat kepada wisatawan Tiongkok, yang merupakan salah satu pasar wisata internasional terbesar di dunia.
Di Halmahera Utara, Maluku Utara, Menteri Transmigrasi dan Duta Besar Tiongkok akan meninjau kawasan transmigrasi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kelapa. Peninjauan tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama untuk memperkuat hilirisasi industri kelapa sekaligus memperluas akses ekspor hasil produksi masyarakat kawasan transmigrasi ke pasar Tiongkok.
Kunjungan kerja kemudian akan dilanjutkan ke kawasan transmigrasi di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Selain melihat berbagai peluang investasi dan pengembangan ekonomi kawasan, kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan mempromosikan Labuan Bajo kepada masyarakat Tiongkok sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan Indonesia.
Menteri Transmigrasi menegaskan bahwa seluruh peluang kerja sama yang dijajaki dalam kunjungan ini harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami menyambut baik setiap peluang investasi dan kerja sama internasional. Namun prinsip kami sangat jelas, investasi yang masuk harus menciptakan manfaat langsung bagi masyarakat. Harus membuka lapangan kerja, meningkatkan keterampilan, memperluas akses pasar, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi maupun masyarakat lokal di sekitarnya,” kata Iftitah.
Menurutnya, ukuran keberhasilan sebuah investasi tidak hanya dilihat dari besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
“Bagi kami, ukuran keberhasilan investasi bukan hanya berapa besar modal yang masuk, tetapi berapa banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya. Investasi harus menghadirkan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat,” lanjutnya.
Iftitah menambahkan bahwa transformasi transmigrasi yang saat ini dijalankan pemerintah berorientasi pada pembangunan kawasan yang produktif, berdaya saing, dan terhubung dengan pasar nasional maupun global.
“Kami tidak sedang mencari investor untuk kawasan transmigrasi. Kami sedang mencari mitra yang mau tumbuh bersama masyarakat. Karena tujuan akhir dari seluruh pembangunan ini adalah kesejahteraan untuk semua,” pungkasnya.
Melalui kunjungan kerja ini, diharapkan terbangun kerja sama yang semakin erat antara Indonesia dan Tiongkok dalam mendukung pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, pusat produksi pangan, pusat pengembangan komoditas unggulan, serta pusat-pusat pengentasan kemiskinan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan Indonesia.