Senin, 25/05/2026 00:30 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kanker pada anak sejatinya bukan hal yang mengkhawatirkan. Di negara-negara maju, angka kesembuhan penyakit ini mampu mencapai 80 hingga 90 persen.
Sayangnya, kemajuan tersebut menyisakan kesenjangan di Indonesia. Kanker anak kerap dianggap tidak prioritas karena jumlahnya hanya sekitar 5 persen dari seluruh kasus kanker.
Demikian disampaikan Dr. dr. Mururul Aisyi, Sp.A, Sub.Sp.H.O.(K), dalam kegiatan The 6th Siloam Oncology Summit: United by Unique yang berlangsung di Jakarta, pada Minggu (24/5).
Dalam penuturannya, dr. Aisyi menyebut sekitar 80 hingga 90 persen kasus kanker anak sebetulnya masih dapat ditangani melalui terapi konvensional, yakni kemoterapi.
Hari Kanker Anak Sedunia Diperingati 15 Februari, Begini Sejarah hingga Tujuannya
Pengidap Kanker Anak asal Ukraina Tiba di Inggris
Awas, Informasi Kanker Anak di Medsos Bahayakan Pasien
Namun, tantangan terbesar justru muncul pada 10 hingga 20 persen kasus yang tidak merespons kemoterapi. Untuk kelompok inilah, imunoterapi hadir sebagai solusi yang tidak bisa ditunda.
"Tidak bisa menunggu yang mudah ini kita perbaiki, harus secara paralel mengerjakan yang advance," kata dr. Aisyi.
Lebih jauh, dr. Aisyi memperkenalkan terapi CAR-T (Chimeric Antigen Receptor T-cell) sebagai terobosan khusus untuk kasus leukemia anak, terutama leukemia limfoblastik akut.
Terapi ini dirancang menyasar pasien yang sudah tidak lagi merespons kemoterapi konvensional. Dia berharap penerapan CAR-T di Indonesia ditargetkan dapat terwujud dalam waktu dekat, bahkan berpotensi dimulai pada tahun ini.
Secara biologis, kata dr. Aisyi, sel kanker pada anak memiliki tingkat mutasi yang relatif lebih rendah dibandingkan kanker dewasa. Hal ini membuat kanker anak umumnya lebih responsif terhadap kemoterapi.
Namun, rendahnya mutasi mengakibatkan sistem imun tubuh cenderung tidak mengenali dan menyerang sel kanker tersebut, sehingga diperlukan pendekatan imunoterapi untuk mengaktifkan respons imun secara lebih efektif.
Sementara itu, Dr. dr. Hikari Ambara Sjakti, SpA(K) Onk, menyoroti pentingnya pendekatan berbasis genetik dalam pengobatan kanker anak.
Dia menekankan bahwa selama ini dunia medis dihadapkan pada sebuah paradoks, yakni dua pasien dengan diagnosis yang sama, mendapat obat yang sama, namun mengalami hasil yang berbeda terkait kesembuhan dan kekambuhan.
Menurut dr. Hikari, perbedaan respons itu bukan tanpa sebab. Di balik kanker, ada keunikan genetik masing-masing pasien yang selama ini luput dari perhatian.
"Sama-sama sakit kepala, sama-sama minum paracetamol, tingkat kesembuhannya berbeda. Kanker juga demikian," kata dr. Hikari.
Dengan mengidentifikasi kelainan genetik yang dimiliki setiap pasien, lanjut dr. Hikari, dokter dapat merancang terapi yang lebih presisi dan personal. Sehingga, pendekatan yang dikenal sebagai precision medicine atau kedokteran presisi ini, memungkinkan penanganan lebih tepat sasaran, terutama bagi pasien yang tidak memberikan respons terhadap kemoterapi standar.
"Kalau kita gali, ciri genetik bisa menentukan pengobatan. Yang tidak mempan, harus dicari lagi dengan ciri genetik tersebut," dia menambahkan.