Presiden Lai Ching-te Ingin Bicarakan Nasib Taiwan dengan Trump

Kamis, 21/05/2026 16:59 WIB

Taipei, Jurnas.com - Presiden Taiwan Lai Ching-te menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Komunikasi tersebut dinilai akan mendobrak protokol diplomatik yang telah berjalan selama lebih dari empat dekade sekaligus berisiko memicu kemarahan China.

Pernyataan ini muncul setelah Trump menyampaikan pada Rabu (20/5) kemarin bahwa dia akan berbicara dengan Lai, di saat Gedung Putih tengah mempertimbangkan penjualan senjata ke pulau demokratis tersebut.

Dikutip dari AFP pada Kamis (21/5), momen ini menjadi kali kedua sejak KTT di Beijing pekan lalu ketika Trump menyatakan niatnya untuk menghubungi pemimpin Taiwan.

Hubungan komunikasi langsung semacam ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi Presiden Taiwan dan Amerika Serikat yang sedang menjabat untuk saling berbicara, sejak Washington mengalihkan hubungan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979.

“Taiwan berkomitmen untuk mempertahankan status quo yang stabil di Selat Taiwan dan China adalah pengganggu perdamaian serta stabilitas. Presiden Lai akan senang mendiskusikan hal-hal ini dengan Presiden Trump,” tulis kementerian luar negeri Taiwan dalam sebuah pernyataan resmi.

Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk berbicara dengan siapapun, dan menyebut telah melakukan pertemuan yang sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraannya ke Beijing pekan lalu.

Setelah menyelesaikan kunjungannya ke Beijing, Trump sempat mengisyaratkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat digunakan sebagai posisi tawar dengan China, yang mengeklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan.

Sejak saat itu, pemerintahan Lai terus bersikap ofensif dengan menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah, dan Trump tidak membuat komitmen apapun kepada China terkait penjualan senjata ke pulau itu.

Taiwan sejauh ini sangat bergantung pada dukungan AS untuk menangkal potensi serangan China, dan kini berada di bawah tekanan kuat untuk meningkatkan pengeluaran mereka melalui investasi di perusahaan-perusahaan Amerika.

Pada 2016, sesaat setelah kemenangan pemilu pertamanya, Trump yang kala itu berstatus sebagai presiden terpilih sempat menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen, yang akhirnya memicu kemarahan Beijing serta mengejutkan para diplomat dunia.

TERKINI
Kasus Kanker Kolorektal pada Anak Muda Meningkat, Ilmuwan Ungkap Pemicunya Malaysia Tegur TikTok Buntut Konten Penghinaan ke Kerajaan Kawal SPMB 2026, Kemendikdasmen Gandeng Kejagung hingga KSP Dukung Kuba, China Kecam Dakwaan AS terhadap Raul Castro