Trump Ultimatum Iran: Segera Berdamai atau Hancur Total!

Senin, 18/05/2026 11:28 WIB

Washington, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terbaru kepada Iran pada Minggu (17/5) kemarin, dengan menyatakan bahwa Teheran harus bergerak cepat menuju kesepakatan damai.

Peringatan ini muncul di tengah situasi Washington yang masih terjebak dalam konflik bersenjata dengan Iran, sejak pasukan AS dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Republik Islam tersebut mulai 28 Februari lalu.

Pihak Gedung Putih sejauh ini masih kesulitan untuk memecahkan kebuntuan dan membuat kemajuan berarti guna mengakhiri perang, yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah serta memicu lonjakan harga energi global.

Dampak nyata dari perang ini telah menyebabkan blokade efektif di Selat Hormuz, jalur air kritis tempat lewatnya sekitar 20 persen ekspor minyak mentah dunia pada masa damai.

"Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!" tulis Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social miliknya, dikutip dari AFP pada Senin (18/5).

Perang ini juga menyeret negara tetangga, Israel dan Lebanon, ke dalam konflik yang mematikan. Pemerintah Iran selaku penyokong utama kelompok Hizbullah, menuntut adanya gencatan senjata yang langgeng di Lebanon sebelum menyetujui perjanjian damai yang lebih luas dengan Trump, yang belakangan merasa frustrasi karena penolakan Teheran untuk menerima kesepakatan sesuai dengan persyaratan yang ia ajukan.

Seorang pejabat militer Israel melaporkan bahwa kelompok Hizbullah telah menembakkan sekitar 200 proyektil ke arah wilayah Israel dan pasukannya sepanjang akhir pekan kemarin, meskipun Israel dan Lebanon sebenarnya telah sepakat untuk memperpanjang masa gencatan senjata mereka.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa serangan udara terbaru Israel pada Minggu kemarin di wilayah selatan negara itu telah menewaskan lima orang, termasuk dua anak-anak.

Rangkaian serangan Israel sejak awal perang tercatat telah menewaskan lebih dari 2.900 orang di Lebanon, termasuk 400 korban jiwa yang berjatuhan sejak kesepakatan gencatan senjata dimulai pada 17 April lalu, menurut data resmi dari otoritas Lebanon.

Meskipun Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata pada 8 April, proses negosiasi damai saat ini mandek dan serangan sporadis masih terus terjadi di lapangan.

Sebelumnya, sejumlah media lokal Iran melaporkan bahwa AS gagal memberikan konsesi konkret apapun dalam tanggapan terbaru mereka terhadap draf agenda negosiasi yang diajukan oleh Iran untuk mengakhiri perang.

Kantor berita Fars mengabarkan bahwa Washington mengajukan daftar berisi lima poin tuntutan, yang salah satunya mendesak Iran untuk hanya mengoperasikan satu situs nuklir saja serta menyerahkan seluruh cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik mereka kepada Amerika Serikat.

Selain itu, Washington juga menolak untuk mencairkan bahkan 25 persen saja dari aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta enggan membayar ganti rugi atas kerusakan yang dialami Iran selama perang berlangsung.

"Amerika Serikat, tanpa menawarkan konsesi yang nyata, ingin mendapatkan keuntungan yang gagal mereka raih selama perang berlangsung, di mana hal ini justru akan membawa proses negosiasi menuju jalan buntu," tulis kantor berita Mehr dalam laporannya.

TERKINI
Ini Golongan yang Berhak Menerima Daging Kurban Sesuai Syariat Islam Positif Narkoba, Masinis Tabrakan Maut di Bangkok Jadi Tersangka Media Israel Sebut Pasukan Israel Bersiap Mencegat Armada Bantuan Gaza Dipimpin Matthew Wale, Solomon Beri Sinyal Manuver ke Taiwan?