Kementerian UMKM Dorong Gen-Z Kembangkan Produk Sawit Berdaya Saing

Rabu, 13/05/2026 19:57 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendorong generasi Z menjadi pelaku sawit yang adaptif dan kolaboratif. Pasalnya, Indonesia memiliki bahan baku berlimpah sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman, dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertajuk `Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood` di Yogyakarta, pada Selasa (12/5) kemarin.

"Sangat menginspirasi sekali acara ini. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Majalah Sawit, BPDP, dan AKPY. Tema ini sangat strategis untuk mendorong Gen-Z agar adaptif dan kolaboratif dalam optimalisasi sawit secara berkelanjutan," ujar Bagus dalam sambutan yang dibacakan oleh Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Refani Anwar Azis.

Menurut dia, di sinilah peran generasi muda menjadi sangat penting. UMKM sawit dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan, mulai dari sektor kerajinan, oleofood, energi, hingga pangan.

"Kami mendorong Gen-Z Preneur untuk mengembangkan produk yang memiliki daya saing tinggi dan mampu bersaing secara global," kata dia.

Hal senada disampaikan Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Helmi Muhansah. Menurut dia, banyak program yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan industri sawit nasional.

"Kalau teman-teman mau kuliah, BPDP punya program beasiswa dengan 42 kampus mitra BPDP untuk berbagai jenjang pendidikan mulai D3, D4, maupun S1," ujar Helmi.

Helmi menambahkan, BPDP juga mendorong lahirnya lebih banyak pelaku UMKM berbasis sawit. Ia menyebut sektor sawit memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dari ekspor nonmigas yang mencapai sekitar 9-10 persen.

"BPDP siap berkolaborasi dengan teman-teman untuk mengembangkan sawit. Rasio kewirausahaan kita masih sekitar 3 persen, padahal indikator negara maju minimal 10 persen," ujar dia.

Karena itu, pihaknya berharap generasi muda dapat terinspirasi menciptakan produk-produk inovatif berbasis sawit, kakao, dan kelapa. Dia juga mencontohkan berbagai produk kreatif turunan sawit yang kini mulai berkembang di masyarakat.

"Sekarang lidi sawit sudah dibuat menjadi peci dari Aceh seperti yang saya pakai saat ini. Ada juga batik sawit yang didirikan oleh CV Smart batik. Kami berharap melalui program ini lahir inovasi UKM sawit lainnya," Helmi menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), Dr. Purwadi, mengatakan Indonesia masih menjadi pemain utama industri sawit global, baik dari sisi produksi, ekspor, maupun konsumsi. Di sinilah, generasi muda memiliki peran penting untuk menjaga keberlanjutan industri strategis tersebut di masa depan.

"Indonesia memiliki area sawit terluas di dunia, eksportir terbesar, sekaligus konsumen terbesar. Sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia di berbagai aspek," ujar Purwadi.

Dr. Purwadi menyebutkan, secara global lahan sawit hanya mencakup sekitar 6 persen dari total luas tanaman penghasil minyak nabati dunia. Namun, sawit dinilai paling unggul karena memiliki ratusan produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari bangun pagi sampai tidur, banyak produk yang kita gunakan mengandung sawit. Karena itu sawit menjadi pesaing besar minyak nabati lainnya,” kata dia.

Ia juga menantang peserta workshop untuk mengambil peluang bisnis di sektor sawit. Menurutnya, keberlanjutan kejayaan sawit Indonesia sangat bergantung pada kesiapan generasi penerus.

“Peluang bisnis sawit ini masih sangat besar untuk dikembangkan terutama produk-produk UKM. Tetapi ingat anak mudanya jangan sampai letoy dan bermalas-malasan. Kita harus mau belajar salah satunya melalui workshop ini,” kata Purwadi.

Ketua Pelaksana Workshop, Qayuum Amri mengatakan workshop dapat terselenggara melalui kerja sama Majalah Sawit Indonesia yang didukung penuh oleh BPDP serta dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan AKPY-STIPER.

Dia mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mengenalkan potensi usaha sawit kepada generasi muda, termasuk praktik pembuatan produk oleofood berbasis sawit yang akan dilaksanakan di INSTIPER Bakery Academy pada hari kedua kegiatan.

“Kami ingin menarik minat Gen Z agar menjadi penerus keberlanjutan sawit di masa depan. Mahasiswa akan diajak belajar langsung membuat produk oleofood berbasis sawit,” ujar Qayuum.

TERKINI
Kementerian UMKM Dorong Gen-Z Kembangkan Produk Sawit Berdaya Saing Dikhianati Sahabat? Ini Sikap yang Dianjurkan dalam Islam Apel Siaga Kades se-Sulsel, Mendes Minta Wujudkan Asta Cita ke-6 Presiden Nadiem Makarim Juga Dituntut Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun