Kematian Anak Melonjak di Tepi Barat, PBB Kecam Israel

Selasa, 12/05/2026 19:55 WIB

Jenewa, Jurnas.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam keras dampak dari eskalasi operasi militer Israel dan serangan pemukim di Tepi Barat yang diduduki terhadap anak-anak. Data menunjukkan sebanyak 70 anak Palestina telah tewas sejak awal tahun 2025 hingga saat ini.

James Elder, juru bicara badan anak-anak PBB (UNICEF), menyatakan bahwa anak-anak menanggung beban yang tidak manusiawi akibat peningkatan operasi militer dan serangan pemukim di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.

Sejak Israel memulai operasi militer besar-besaran pada awal 2025, rata-rata satu anak Palestina tewas setiap minggunya, sementara 850 anak lainnya mengalami luka-luka pada periode yang sama.

“Anak-anak membayar harga yang tidak tertahankan atas meningkatnya operasi militer dan serangan pemukim di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur,” ujar juru bicara badan anak-anak PBB, James Elder dikutip dari AFP pada Selasa (12/5).

Berdasarkan laporan tersebut, mayoritas korban tewas maupun luka disebabkan oleh penggunaan amunisi tajam. Elder menyoroti bahwa pasukan Israel bertanggung jawab atas 93 persen dari total kematian tersebut, dan operasi militer yang meluas ini terjadi bersamaan dengan tingkat serangan pemukim yang mencapai rekor bersejarah.

PBB mencatat bahwa Maret 2026 menjadi periode dengan jumlah warga Palestina yang terluka akibat serangan pemukim Israel tertinggi dalam setidaknya 20 tahun terakhir. Berbagai insiden yang terdokumentasi mencakup anak-anak yang ditembak, ditikam, dipukuli, hingga disemprot dengan cairan merica.

“Insiden yang terdokumentasi mencakup anak-anak yang ditembak, ditikam, anak-anak yang dipukuli, dan anak-anak yang disemprot merica,” ujar James Elder menunjukkan.

Kondisi tersebut diperburuk dengan penghancuran fasilitas dasar yang dibutuhkan anak-anak untuk tumbuh dan bertahan hidup. Rumah-rumah dirobohkan, sarana pendidikan hancur, sistem pengairan diserang, akses layanan kesehatan dihambat, serta adanya pembatasan ruang gerak yang sangat ketat.

Selain itu, peningkatan hambatan dan blokade di Tepi Barat mengakibatkan anak-anak terputus dari akses sekolah, rumah sakit, dan layanan esensial lainnya. Hal ini memicu perpindahan penduduk secara massal, ketika lebih dari 2.500 warga Palestina termasuk 1.100 anak-anak terpaksa mengungsi hanya dalam empat bulan pertama tahun ini.

“Itu melampaui total perpindahan yang tercatat pada tahun 2025,” kata dia.

Sejak konflik di Gaza meletus pada Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat yang telah diduduki Israel sejak 1967 terus meningkat tajam. Menurut perhitungan AFP yang merujuk pada data Otoritas Palestina, setidaknya 1.070 warga Palestina telah tewas akibat tindakan tentara maupun pemukim Israel selama periode konflik tersebut.

TERKINI
ISIS Klaim Serangan Mematikan terhadap Tentara Suriah di Hasakah Kemendikdasmen Siapkan Rp2,2 Triliun untuk Revitalisasi 938 SMK hingga SLB Bertolak ke China, Trump Berharap Sambutan Hangat Xi Jinping Kriminalitas WNA Melonjak, Thailand Bakal Perketat Aturan Bebas Visa