Minggu, 10/05/2026 14:30 WIB
Moskow, Jurnas.com - Presiden Rusia, Vladimir Putin, memberikan sinyal kuat bahwa perang di Ukraina yang berlangsung selama empat tahun terakhir, kemungkinan besar akan segera berakhir.
Pernyataan yang memicu harapan diplomatik baru ini disampaikan Putin kepada wartawan pada hari Sabtu (9/5), tak lama setelah ia memimpin parade Hari Kemenangan (Victory Day) di Lapangan Merah yang tahun ini digelar jauh lebih sederhana dari biasanya.
Dalam kesempatan tersebut, Putin menyatakan kesediaannya untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di negara ketiga. Namun, dia memberikan syarat tegas bahwa pertemuan tersebut hanya akan terjadi untuk meresmikan kesepakatan damai yang sudah final.
“Pertemuan di negara ketiga juga dimungkinkan, tetapi hanya setelah perjanjian damai yang ditujukan untuk perspektif sejarah jangka panjang diselesaikan. Ini harus menjadi kesepakatan final, bukan lagi proses negosiasi,” kata Putin dikutip dari Aljazeera pada Minggu (10/5).
Putin Tawarkan Pemindahan dan Penyimpanan Uranium Milik Iran
Israel Perluas Peringatan Evakuasi di Lebanon selama Gencatan Senjata
Israel Terus Serang Lebanon, AS Desak Perundingan
Janji Putin ini juga muncul bersamaan dengan dimulainya gencatan senjata selama tiga hari dan kesepakatan pertukaran 1.000 tawanan antara kedua belah pihak. Langkah ini menyusul permintaan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang kini semakin dekat.
Meskipun menunjukkan sikap yang lebih lunak dalam diplomasi, Putin tetap membela operasi militernya di hadapan pasukan Rusia. Dia menyebut misi tersebut sebagai "tujuan yang adil" melawan kekuatan agresif yang didukung oleh seluruh blok NATO.
“Saya pikir masalah ini sedang menuju akhir,” ujar dia.
Parade Hari Kemenangan tahun 2026 ini juga mencatatkan sejarah baru dengan kehadiran pasukan Korea Utara yang berbaris di Lapangan Merah. Hal ini merupakan bentuk penghormatan bagi Pyongyang yang telah mengirimkan tentaranya untuk membantu Rusia menghalau serangan Ukraina di wilayah Kursk.
Meski kemajuan militer Rusia di wilayah Donbas melambat dalam setahun terakhir, kendali Moskow atas hampir seperlima wilayah Ukraina dan tekanan ekonomi global tampaknya mulai mendorong semua pihak menuju meja perundingan.