Senin, 04/05/2026 13:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Setiap 3 Mei, dunia memperingati International Wild Koala Day atau Hari Koala Liar Internasional. Peringatan ini bukan sekadar merayakan satwa ikonik Australia, tetapi juga menjadi pengingat serius bahwa populasi koala kian terancam akibat hilangnya habitat alami mereka.
Peringatan ini menyatukan ilmuwan, aktivis lingkungan, dan masyarakat untuk menyuarakan pesan kelangsungan hidup Koala sangat bergantung pada kelestarian hutan. “Koala hanya bisa bertahan jika hutannya juga bertahan,” menjadi gagasan utama di balik kampanye global ini.
Meski sering dijuluki “koala bear”, Koala sebenarnya bukan beruang, melainkan hewan marsupial, ia kerabat wombat yang membawa anaknya dalam kantong. Mereka hidup hampir sepenuhnya di atas pohon dan jarang turun ke tanah.
Dikutip dari Earth, habitat utama koala berada di hutan eukaliptus di sepanjang pesisir timur Australia. Daun eukaliptus menjadi sumber makanan sekaligus tempat tinggal mereka.
Koala juga dikenal tidur hingga 20 jam sehari. Ini bukan karena malas, melainkan strategi bertahan hidup.
“Pola makan berbasis eukaliptus memberikan energi sangat rendah dan mengandung racun, sehingga koala harus menghemat energi dengan banyak beristirahat,” tulis Earth.
Koala memiliki pola makan yang sangat spesifik. Mereka mengonsumsi daun eukaliptus hingga 1–1,5 kilogram per hari. Uniknya, mereka jarang minum air karena kebutuhan cairan sudah terpenuhi dari daun tersebut.
Sistem pencernaan mereka juga sangat khusus, dengan usus panjang yang mampu memecah racun dan mengekstrak nutrisi dari daun beracun. Bahkan, nama “koala” diyakini berasal dari bahasa Aborigin yang berarti “tidak minum”.
Fosil menunjukkan bahwa hewan mirip koala sudah ada sejak lebih dari 25 juta tahun lalu. Kini, Koala menjadi satu-satunya spesies yang tersisa dari garis evolusinya.
Mereka beradaptasi sempurna untuk hidup di pepohonan, dengan cakar tajam untuk mencengkeram batang dan indra penciuman tajam untuk memilih daun terbaik. Anak koala, atau joey, menghabiskan masa awal hidupnya di kantong induk sebelum kemudian berpindah ke punggungnya.
Peringatan International Wild Koala Day semakin relevan karena ancaman terhadap koala terus meningkat. Deforestasi, perubahan iklim, kebakaran hutan, hingga kekeringan berkepanjangan menjadi faktor utama penyusutan populasi.
Selain itu, penyakit seperti klamidia juga turut memperparah kondisi. Di beberapa wilayah Australia, koala bahkan telah masuk kategori terancam punah.
Ketergantungan pada jenis pohon eukaliptus tertentu membuat mereka rentan terhadap ekspansi manusia. Ketika hutan menyusut, koala terpaksa turun ke tanah lebih sering, sehingga lebih berisiko tertabrak kendaraan, diserang anjing, atau mengalami stres panas.
Sejumlah organisasi seperti WWF Australia dan Koala Clancy Foundation aktif melakukan konservasi melalui penanaman pohon, pemulihan habitat, dan peningkatan kesehatan populasi koala.
Masyarakat juga didorong untuk berpartisipasi, mulai dari menanam pohon hingga menyebarkan kesadaran melalui media sosial.
Pesan utama dari peringatan ini sederhana namun penting: melindungi hutan berarti melindungi koala, dan seluruh ekosistem yang bergantung padanya.
Kehidupan tenang koala di atas pepohonan kini semakin terancam. Perubahan lingkungan yang cepat membuat pola hidup yang dulu stabil menjadi rapuh.
Hari Koala Liar Internasional mungkin hanya berlangsung satu hari, tetapi masa depan Koala bergantung pada upaya perlindungan hutan yang konsisten sepanjang tahun. (*)