Jum'at, 01/05/2026 15:12 WIB
Tokyo, Jurnas.com - Kebijakan Jepang yang melonggarkan aturan ekspor senjata membuka peluang bagi Tokyo untuk memasok peralatan militer guna membantu Ukraina melawan invasi Rusia.
Duta Besar Ukraina untuk Jepang, Yurii Lutovinov, menyebut langkah ini sebagai kemajuan teoritis yang sangat besar bagi hubungan pertahanan kedua negara.
Perdana Menteri Sanae Takaichi resmi melonggarkan aturan ekspor pekan lalu, yang menandai pergeseran lebih jauh Jepang pasca-Perang Dunia Kedua. Meskipun aturan baru tetap mengontrol ekspor ke zona konflik, terdapat pengecualian bagi pengiriman yang dianggap mendukung kepentingan keamanan Tokyo.
“Ini memungkinkan kita untuk berbicara. Secara teoritis, ini adalah langkah maju yang sangat besar,” kata Lutovinov dikutip dari Reuters pada Jumat (1/5).
Ukraina kini berharap dapat menarik investasi Jepang, terutama untuk pengembangan sistem pertahanan udara guna mengurangi ketergantungan pada rudal Patriot buatan AS yang kian menipis.
Lutovinov menekankan bahwa negaranya memiliki kapasitas industri namun membutuhkan dukungan finansial. Ia juga melihat potensi kolaborasi teknologi antara komponen elektronik canggih Jepang dengan pengalaman tempur Ukraina dalam penggunaan drone.
“Kami bukan negara yang hanya ingin meminta. Kami adalah negara yang juga akan memberi. Teknologi Jepang dan pengalaman Ukraina, jika kita menyatukannya, akan menjadi produk kelas atas,” dia menambahkan.
Selain pembicaraan bilateral, Ukraina juga mendiskusikan kemungkinan Jepang berkontribusi dalam program PURL milik NATO, yang mendanai pembelian peralatan militer.
Lutovinov meyakini bahwa keterlibatan Jepang di Ukraina sangat krusial bagi keamanan kawasan Indo-Pasifik, mengingat posisi Jepang yang berdekatan dengan Taiwan.
“Jika Ukraina jatuh, itu akan menjadi efek domino yang besar. Itulah mengapa Indo-Pasifik dan benua Eropa tidak dapat dipisahkan dari sudut pandang keamanan kita,” ujar dia.
Meskipun PM Takaichi belum memberikan indikasi publik terkait dukungan ekspor senjata ke Kyiv, pemerintahannya dijadwalkan meluncurkan strategi pertahanan tahun ini.
Strategi tersebut diperkirakan akan meningkatkan pengadaan drone udara, laut, dan darat, jenis persenjataan yang telah terbukti efektif digunakan Ukraina dalam memukul mundur serangan Rusia.