Kamis, 30/04/2026 21:31 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Guru Besar President University (Presuniv), Prof. Dr. Jhanghiz Syahrivar, menyoroti paradigma umum mengenai pemasaran yang kerap kali direduksi sebagai alat untuk mengelola pertukaran ekonomi, atau sekadar mencari keuntungan.
Menurut dia, pemasaran seharusnya menjadi kekuatan yang turut membentuk cara masyarakat memahami tanggung jawab, memaknai nilai dan tradisi, serta memperoleh pengakuan sosial melalui konsumsi.
Hal ini disampaikan Prof. Jhanghiz dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai Guru Besar Presuniv pada 21 April 2026 lalu. Pengukuhan itu juga membuatnya menjadi salah satu Guru Besar termuda di Indonesia.
"Melalui mekanisme pasar, beban moral didistribusikan, makna sosial diproduksi, dan relasi kuasa dilembagakan dalam bentuk yang sering kali tampak wajar," kata Prof. Jhanghiz.
President University Kukuhkan Tiga Guru Besar, Ini Profilnya
Guru Besar IPB Bantah Sawit Jadi Penyebab Utama Banjir Sumatra
Hari Kartini, Mercu Buana Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jhanghiz juga mendorong para akademisi untuk mengembangkan riset yang berorientasi pada pemberdayaan konsumen dan tanggung jawab bisnis.
Salah satunya melalui penelitian terkait praktik greenwashing yang berpotensi menyesatkan konsumen, serta eksploitasi nilai sosial dan religius dalam strategi pemasaran.
Lebih jauh, dia menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam ilmu pemasaran dari sekadar menjawab `apa yang efektif?` atau `apa yang menguntungkan perusahaan?`, menjadi pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu `apa yang adil, pantas, dan bertanggung jawab?`.
"Pemasaran harus dipahami sebagai bagian dari sistem sosial yang lebih luas, yang berkaitan erat dengan struktur, institusi, serta dinamika kekuasaan dalam masyarakat," dia menambahkan.
Dalam konteks Indonesia yang kaya akan nilai budaya dan religius, lanjut Prof. Jhanghiz, pendekatan ini menjadi semakin relevan. Dia menyebut pemasaran memiliki tanggung jawab publik untuk tidak hanya melayani kepentingan pasar, tetapi juga kepentingan masyarakat secara luas.
Diketahui, pengkuhan Prof. Jhanghiz mencatatkan sejarah penting dalam perjalanan Presuniv. Dia menjadi alumnus Presuniv pertama yang mencapai karier akademik ini, setelah menyelesaikan pendidikan S1 pada 2005 silam.
Dia kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Tarumanagara, serta meraih gelar doktor di Corvinus University of Budapest melalui beasiswa Stipendium Hungaricum dengan predikat summa cum laude. Prof. Jhanghiz merupakan mahasiswa asal Indonesia pertama yang menyelesaikan program doktor di universitas tersebut dalam waktu kurang dari empat tahun.
"18 tahun lalu, beliau lulus sebagai mahasiswa President University. Hari ini, beliau kembali ke President University sebagai seorang profesor. Ini membuktikan bahwa President University mampu melahirkan Guru Besar dari alumninya sendiri," ujar Rektor Presuniv, Handa Abidin.