WHO: 1,3 Juta Orang Meninggal karena Hepatitis setiap Tahun

Rabu, 29/04/2026 12:00 WIB

Jenewa, Jurnas.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti lambannya upaya eliminasi penyakit hepatitis secara global. Padahal, perangkat medis untuk mengeliminasi penyakit yang membunuh lebih dari satu juta orang setiap tahunnya ini sudah tersedia.

Berdasarkan data WHO, hepatitis viral B dan C, dua jenis infeksi yang bertanggung jawab atas 95 persen kematian terkait hepatitis di seluruh dunia, merenggut 1,34 juta nyawa pada 2024. Selain itu, lebih dari 1,8 juta infeksi baru tercatat setiap tahunnya.

“Kemajuan berjalan terlalu lambat dan tidak merata. Banyak orang tetap tidak terdiagnosis dan tidak diobati karena stigma, sistem kesehatan yang lemah, dan akses perawatan yang tidak adil,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dikutip dari AFP pada Rabu (29/4).

Hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai virus menular dan agen tidak menular yang memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk kerusakan hati parah hingga kanker. Dari lima jenis galur utama, tipe B dan C merupakan pembunuh infeksius yang paling dominan.

Dalam Global Hepatitis Report 2026, WHO memperkirakan terdapat 287 juta orang yang hidup dengan infeksi hepatitis B atau C kronis pada tahun 2024. Namun, cakupan pengobatannya masih sangat memprihatinkan.

Dari 240 juta penderita hepatitis B kronis, kurang dari 5 persen yang menerima pengobatan. Sementara itu, hanya 20 persen penderita hepatitis C yang telah diobati sejak 2015.

Dalam laporan tersebut, Afrika menjadi wilayah dengan beban infeksi hepatitis B terberat, hanya 17 persen bayi yang menerima dosis vaksin saat lahir pada 2024.

Enam negara masuk dalam daftar 10 besar kematian terkait hepatitis B dan C, yaitu: China, India, Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan Vietnam. Direktur departemen WHO yang menangani hepatitis, Tereza Kasaeva, menekankan pentingnya penanganan dini.

“Setiap kegagalan diagnosis dan infeksi yang tidak diobati akibat hepatitis viral kronis merupakan sebuah kematian yang sebenarnya bisa dicegah,” kata Kasaeva.

WHO menekankan bahwa alat untuk menuntaskan masalah ini sudah tersedia. Vaksin hepatitis B mampu melindungi lebih dari 95 persen penerimanya. Sementara itu, terapi kuratif jangka pendek untuk hepatitis C selama 8 hingga 12 minggu dapat menyembuhkan lebih dari 95 persen infeksi.

Meskipun tantangan besar masih membentang, beberapa kemajuan telah dicapai sejak 2015. Jumlah tahunan infeksi baru hepatitis B telah turun sebesar 32 persen, sementara kematian terkait hepatitis C turun sebesar 12 persen.

Sejumlah negara seperti Inggris, Mesir, Georgia, dan Rwanda telah menunjukkan bahwa eliminasi hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat sangat mungkin dilakukan.

TERKINI
Kuartal I, Penerimaan Sektor Digital Capai Rp4,48 Triliun DPR Minta Pengawasan dan Penindakan Diperketat di Perlintasan Sebidang BP BUMN Pastikan Penanganan dan Santunan Bagi Korban di Bekasi Timur Eks Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Tersangka Korupsi Dana PI 10 Persen