Gunakan Kondom dalam Penelitian, Ilmuwan Temukan Fungsi Unik Menara Cicada

Selasa, 28/04/2026 10:05 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian di hutan hujan Amazon mengungkap temuan unik, penggunaan kondom sebagai alat eksperimen justru membantu ilmuwan memahami fungsi menara tanah yang dibangun oleh nimfa cicada.

Struktur ini kini diyakini berperan penting dalam melindungi serangga dari predator sekaligus mengatur sirkulasi udara selama fase akhir perkembangan mereka.

Dikutip dari Earth, temuan ini menjawab misteri lama tentang fungsi menara tersebut, sekaligus mengubah cara pandang ilmuwan terhadapnya—dari sekadar struktur tanah menjadi bagian penting dari mekanisme bertahan hidup cicada.

Di sekitar Manaus, para peneliti menemukan menara kecil dari tanah liat yang dibangun oleh nimfa cicada spesies Guyalna chlorogena. Struktur ini menandai tahap akhir kehidupan mereka di bawah tanah sebelum berubah menjadi dewasa.

Tim peneliti yang bekerja melalui program pelatihan Serrapilheira Institute mengamati bahwa menara tersebut memengaruhi kondisi lingkungan di sekitar serangga, termasuk cara mereka merespons perubahan sirkulasi udara.

Dalam uji coba, peneliti meletakkan umpan di atas menara dan di tanah sekitarnya untuk mengamati aktivitas semut. Hasilnya cukup mencolok.

“Ada delapan kali lebih sedikit semut di atas menara dibandingkan di tanah,” tulis Marina Méga, mahasiswa doktoral ekologi dari Federal University of Rio de Janeiro.

Hal ini menunjukkan bahwa ketinggian menara memberi keuntungan penting bagi cicada, terutama saat mereka sedang dalam fase metamorfosis dan tidak bisa kembali bersembunyi ke dalam tanah.

Untuk menguji fungsi pernapasan, para peneliti menggunakan metode unik: mereka menutup menara dengan kondom lateks dan menyegelnya dengan plastik. Tujuannya adalah menghentikan aliran udara segar ke dalam struktur tanah tersebut.

Hasilnya, nimfa cicada mengalami tekanan pernapasan. Ketika menara dibuka kembali keesokan harinya, serangga menunjukkan respons berbeda dalam membangun ulang strukturnya.

Pendekatan ini penting karena penelitian sebelumnya hanya mengamati menara tanpa benar-benar menguji apa yang terjadi jika fungsinya terganggu.

Penelitian juga menemukan bahwa ukuran menara memengaruhi kemampuan bertahan. Menara yang lebih besar pulih lebih cepat setelah gangguan aliran udara, sementara yang kecil menunjukkan pemulihan lebih lambat.

Hal ini menunjukkan bahwa ruang internal yang lebih besar membantu menahan kondisi udara yang buruk, memberikan perlindungan tambahan bagi nimfa.

Para peneliti kemudian memperkenalkan konsep bahwa menara ini merupakan bagian dari extended phenotype, yakni sifat biologis yang diwujudkan melalui sesuatu yang dibangun di luar tubuh organisme.

Dengan kata lain, cicada tidak hanya membuat struktur, tetapi menciptakan alat yang berfungsi layaknya perpanjangan tubuhnya sendiri untuk bertahan hidup.

Menjelang menjadi dewasa, nimfa cicada harus keluar dari tanah dan memanjat. Pada fase ini, mereka sangat rentan terhadap serangan predator seperti semut.

Menara tanah membantu mengurangi risiko tersebut dengan mengangkat posisi serangga dari permukaan tanah, tempat predator lebih banyak ditemukan.

Penelitian ini dilakukan di tengah keterbatasan peralatan di hutan Amazon. Kondisi lapangan yang menantang justru mendorong peneliti menggunakan metode sederhana namun efektif.

Penggunaan sekitar 40 kondom dalam eksperimen menjadi contoh bagaimana pendekatan kreatif dapat menghasilkan temuan ilmiah penting.

Meski begitu, beberapa pertanyaan masih belum terjawab. Misalnya, mengapa ukuran menara sangat bervariasi, bahkan ada yang mencapai sekitar 45 cm.

Faktor seperti kondisi tanah, kelembapan, atau kemampuan individu cicada masih perlu diteliti lebih lanjut.

Penelitian ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana serangga kecil seperti cicada dapat “merekayasa” lingkungannya demi bertahan hidup. Menara tanah yang sebelumnya dianggap misterius kini dipahami sebagai bagian penting dari strategi evolusi mereka. (*)

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Biotropica. Sumber: Earth

TERKINI
Tragedi Kereta Bekasi, BPKN RI Sebut Sistem PT KAI Perlu Dievaluasi Total DPR Segera Panggil Mendikdasmen, Evaluasi Standar Pendidikan Daycare Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur, Ini Kata Pengamat Transportasi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur: 14 Meninggal Dunia, 84 Luka-luka