Jum'at, 24/04/2026 15:12 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mendukung Polri bersama Kementerian Pertanian (Kementan) mengusut tuntas kasus pupuk palsu yang merugikan petani hingga Rp3,3 triliun.
Sahroni menilai, kejadian ini merupakan kejahatan serius yang merugikan petani, negara, dan juga masyarakat.
“Saya miris sekali ketika membaca data tentang banyaknya pupuk palsu beredar dari Satgas Pangan Polri dan Kementan. Kerugiannya juga tidak main-main, mencapai Rp3,3 Triliun. Ini benar-benar kejahatan serius karena tidak hanya merugikan petani, tapi juga berbahaya bagi pangan kita. Karenanya, saya minta polisi agar menindak tegas para tersangka yang jumlahnya mencapai 70 orangan itu,” ujar Sahroni, kepada wartawan, Jakarta, Jumat (24/4).
Hal itu menyikapi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang secara tegas menyatakan pemerintah akan menindak tegas peredaran pupuk palsu yang merugikan petani.
Komisi III Minta Polda NTB Waspadai Peredaran Vape Narkoba
Komisi IV: Kementan Harus Gandeng Polisi Tindak Tegas Mafia Beras
Komisi III DPR Tinjau Implementasi KUHP dan KUHAP di Bali
Hal ini menyusul pengusutan kasus pupuk tanpa kandungan unsur hara penting seperti nitrogen, kalium, dan fosfat yang diibaratkan hanya menjual tanah biasa. Dalam kasus ini, para pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara kerugian petani ditaksir mencapai Rp3,3 triliun.
Sahroni pun meminta pihak kepolisian menelusuri dalang dari praktik licik tersebut. Ia melihat, besarnya jumlah kerugian dan masifnya pelaku, merupakan indikasi bahwa kejahatan ini terorganisir.
"Lebih jauh, dilihat dari jumlahnya sudah pasti ini komplotan. Jadi polisi juga wajib telusuri siapa bos-bos besar di atasnya dan wajib diproses hukum juga. Selain itu tentunya Polri dan Kementan juga perlu terus mempertahankan kerja-kerja kolaboratifnya untuk menghentikan dan mencegah penyebaran pupuk palsu ini agar tidak makin membahayakan petani. Kolaborasi Polri dan Kementan ini sangat krusial agar tidak ada lagi petani yang jadi korban permainan kotor seperti ini,” tegas Sahroni.