Minggu, 19/04/2026 12:40 WIB
Teheran, Jurnas.com - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Iran telah keluar sebagai pemenang selama pekan-pekan peperangan melawan Amerika Serikat (AS).
Dalam pidato nasional televisi pada Sabtu (18/4), dia menekankan bahwa Teheran hanya menyetujui gencatan senjata sementara, karena tuntutan-tuntutannya telah dipenuhi.
Gencatan senjata selama dua minggu tersebut dijadwalkan akan berakhir pada 22 April mendatang, kecuali ada pembaruan kesepakatan. Hingga saat ini, para mediator, termasuk Pakistan, terus berupaya mendorong tercapainya kesepakatan permanen, meski kemajuan pada poin-poin krusial masih belum menemui kepastian.
"Kita menang di lapangan," kata Ghalibaf dikutip dari AFP pada Minggu (19/4). Dia menilai AS gagal mencapai tujuan-tujuannya, sementara Iran tetap memegang kendali atas rute transit maritim strategis di Selat Hormuz.
Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Timur Tengah Terus Memanas
PM Malaysia Siap Potong Gaji Menteri jika Krisis Timteng Berlanjut
Iran Tawarkan Pembukaan Jalur Alternatif di Selat Hormuz, Ini Syaratnya
Menurut Ghalibaf, persetujuan terhadap gencatan senjata bukanlah bentuk penyerahan diri, melainkan bagian dari strategi diplomasi.
"Jika kami menerima gencatan senjata, itu karena mereka menerima tuntutan kami. Penting bagi kami untuk mencatatkan hak-hak kami, sehingga dalam hal ini, negosiasi adalah sebuah metode perjuangan," ujar dia.
Meski mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri perang, Ghalibaf mengakui bahwa kedua belah pihak masih jauh dari kesepakatan final.
"Masih banyak celah dan beberapa poin mendasar yang masih mengganjal," dia menambahkan.
Sebelumnya pada 11 April, Ghalibaf dan delegasinya telah melakukan pertemuan tertutup di Islamabad dengan Wakil Presiden AS, J.D. Vance. Pertemuan tersebut mencatatkan sejarah sebagai kontak tingkat tertinggi antara Iran dan AS sejak sebelum Revolusi Islam 1979.
Namun, hingga kini pejabat terkait mensinyalir bahwa mediasi masih terus berlanjut tanpa hasil akhir yang konkret. Wakil Menteri Luar Negeri Iran bahkan menyatakan belum ada tanggal pasti yang ditetapkan untuk putaran pembicaraan baru berikutnya.