IAEA: Korea Utara Capai Kemajuan Signifikan dalam Produksi Senjata Nuklir

Rabu, 15/04/2026 14:05 WIB

Seoul, Jurnas.com - Korea Utara mencapai kemajuan signifikan dalam kemampuannya memproduksi senjata nuklir, termasuk kemungkinan penambahan fasilitas pengayaan uranium baru, seiring meningkatnya aktivitas di kompleks nuklir utama negara itu.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Rabu (15/4), sebagaimana dikutip dari Reuters.

Pengayaan uranium dapat menjadi jalur alternatif, dan menurut para ahli lebih efektif, untuk mendapatkan material berkualitas senjata, selain melalui proses pengolahan ulang plutonium bekas yang diekstrak dari reaktor nuklir.

Berbicara di Seoul, Korea Selatan, Grossi mengonfirmasi lonjakan pesat aktivitas di reaktor lima megawatt, unit pemrosesan ulang, reaktor air ringan, dan fasilitas-fasilitas lain di kompleks nuklir Yongbyon milik Korea Utara.

Program nuklir Korea Utara diperkirakan telah mencapai beberapa lusin hulu ledak, kata Grossi dalam konferensi pers, mengacu pada tanda-tanda aktivitas seperti pengoperasian reaktor air ringan dan pengaktifan fasilitas-fasilitas lain di luar Yongbyon.

"Semuanya menunjukkan peningkatan yang sangat serius dalam kemampuan Korea Utara di bidang produksi senjata nuklir," kata Grossi.

Lembaga pengawas nuklir internasional itu juga mengamati pembangunan fasilitas baru yang menyerupai gedung-gedung pengayaan uranium di Yongbyon. Analisis terhadap fitur-fitur eksteriornya menunjukkan perluasan signifikan kapasitas pengayaan.

Dia sebelumnya menyampaikan kepada rapat dewan gubernur IAEA bulan ini bahwa pihaknya sedang memantau sebuah gedung baru di Yongbyon yang memiliki kemiripan dengan fasilitas pengayaan di Kangson, situs nuklir penting lainnya di dekat ibu kota Pyongyang.

Citra satelit dari April mendukung penilaian IAEA tersebut, menurut Center for Strategic and International Studies yang berbasis di AS pada awal pekan lalu. Lembaga itu menyebut citra tersebut mengindikasikan rampungnya sebuah fasilitas pengayaan uranium yang diduga mampu memproduksi material berkualitas senjata.

Pada Rabu, Grossi juga menyatakan bahwa IAEA belum menemukan bukti penggunaan teknologi Rusia dalam program senjata nuklir Korea Utara. Referensi dalam perjanjian kerja sama yang ditandatangani kedua negara tahun lalu tampaknya terbatas pada proyek nuklir sipil, meski ia menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti.

TERKINI
TKA di PKBM Jawab Tantangan Fleksibilitas Belajar Erdogan Ingin Paksa AS dan Iran Kembali ke Meja Perundingan Iran Ancam Tutup Laut Merah jika AS Teruskan Blokade Pelabuhan IFP Bantu Siswa Lebih Siap Hadapi TKA