Selasa, 14/04/2026 11:57 WIB
New York, Jurnas.com - Puluhan demonstran ditangkap polisi di New York City pada Selasa (14/4) dalam aksi protes yang menuntut penghentian penjualan senjata ke Israel, dan mendesak Washington menyetop dukungan militer terhadap negara sekutu tersebut.
Para demonstran termasuk kelompok antiparang Jewish Voice for Peace, yang menyebut sekitar 90 orang ditahan. Di antara mereka yang ditangkap adalah whistleblower Chelsea Manning, mantan tentara Angkatan Darat AS dan sumber bocoran WikiLeaks.
Dikutip dari Reuters, Kepolisian New York City menyatakan ada beberapa penangkapan, namun tidak merinci jumlahnya.
Rekaman dari aksi protes itu memperlihatkan massa berkumpul di dekat kantor Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer dan rekan separtainya dari Partai Demokrat, Senator Kirsten Gillibrand.
Para demonstran meneriakkan slogan-slogan seperti "hentikan bom", "akhiri pembunuhan", dan "bebaskan Palestina", sembari menyuarakan penentangan terhadap serangan AS-Israel ke Iran, serangan Israel di Lebanon, dan serangan Israel di Gaza. Mereka juga meneriakkan "biarkan Gaza hidup", "biarkan Iran hidup", dan "biarkan Lebanon hidup."
AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan serangan terhadap Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Serangan AS-Israel ke Iran dan serangan Israel di Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.
Pemerintahan Presiden Donald Trump telah memperketat cengkeramannya terhadap aksi protes dengan berupaya mendeportasi mahasiswa asing, mengancam pembekuan dana bagi universitas-universitas tempat protes berlangsung, serta memerintahkan pemeriksaan komentar daring para imigran. Kebijakan penindakan itu sendiri telah menghadapi sejumlah hambatan di pengadilan.
New York City sebelumnya menjadi pusat aksi protes pro-Palestina pada 2024. Dukungan militer AS terhadap Israel mendapat sorotan tajam dari kelompok-kelompok hak asasi manusia menyusul perang Israel di Gaza yang menewaskan puluhan ribu orang.
Agresi ini memicu krisis kelaparan, memindahkan seluruh penduduk Gaza dari tempat tinggal mereka, serta memunculkan penilaian genosida dari para akademisi dan penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa.