Minggu, 12/04/2026 12:58 WIB
Miami, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diketahui sedang menonton tarung MMA bersama sejumlah pejabat UFC di Miami, ketika Wakil Presiden AS JD Vance mengumumkan kegagalan perundingan dengan Iran pada Sabtu (11/4).
Selain pejabat UFC, Trump turut dikelilingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Duta Besar AS untuk India Sergio Gor, musisi Vanilla Ice, mantan Wakil Direktur FBI Dan Bongino, dan Joe Rogan, sebagaimana laporan NY Times pada Minggu (12/4).
Meski dikelilingi banyak orang, Trump tampak seperti sosok yang terisolasi. Orang-orang datang silih berganti, menyampaikan kabar terbaru lalu pergi lagi. Sebagian besar waktu, Trump duduk diam dan dengan ekspresi datar menyaksikan darah dan air liur berhamburan dari para petarung yang saling hajar di depannya.
Dia tidak terlihat sibuk dengan ponselnya, lalu pada satu titik Menlu Rubio sempat mendekat dan menunjukkan layar ponselnya kepada sang presiden. Trump pun tidak menampakkan kekecewaan atau kemarahan, hanya tersenyum tipis ke arah kamera dan mengacungkan jempol untuk para pemenang.
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei
Trump Peringatkan Oman Tak Ikut Campur Negosiasi dengan Iran
Trump Ancam Serang 15 Negara Selama Menjabat Presiden AS
Dalam perjalanan menuju Florida, Trump sebenarnya telah menyampaikan kepada para wartawan bahwa dia tidak peduli terkait kesepakatan dengan Iran tercapai atau tidak.
"Kami menang, dalam kondisi apapun. Kami telah mengalahkan mereka secara militer," ujar Trump.
Realitas politik yang dihadapi Trump kini suram, sebagaimana realitas ekonomi yang kian memburuk bagi rakyat Amerika. Inflasi terus meningkat. Harga bahan bakar menggerus penghasilan warga Amerika. Trump merespons tekanan tersebut dengan menyerang para pengkritiknya dan mengancam para lawannya.
Ancamannya untuk menghancurkan seluruh peradaban Iran memicu kecaman luas dari kalangan Demokrat dan sebagian pendukung lamanya. Para anggota Kongres dari Partai Demokrat, yang terkejut dengan perilaku Trump, bahkan mendorong pemakzulannya dan mempertanyakan kecakapan mentalnya untuk menjabat.