Mengenal Nyadran, Tradisi Masyarakat Jawa Menyambut Bulan Ramadan

Selasa, 10/02/2026 15:31 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, memiliki adat dan budaya yang beragam, yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Nyadran, ritual unik yang dilaksanakan untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Nyadran, yang juga dikenal sebagai Ruwahan, dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam kalender Jawa, bertepatan dengan bulan Sya’ban menjelang bulan Ramadan dalam kalender Hijriyah.

Tradisi ini berakar dari kearifan lokal masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur, kemudian mengalami akulturasi dengan ajaran Islam, sehingga menjadi kombinasi penghormatan leluhur dan persiapan spiritual menyambut bulan Ramadan.

Dikutip dari berbagai sumber, secara umum, kegiatan Nyadran mencakup ziarah kubur, di mana masyarakat membersihkan makam leluhur dan mendoakannya. Aktivitas ini dilakukan sebagai simbol bakti dan penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Selain ziarah, masyarakat juga melakukan padusan, mandi di sungai atau tempat pemandian, yang melambangkan pembersihan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Tradisi Nyadran juga melibatkan membersihkan lingkungan sekitar, biasanya dilakukan secara gotong-royong. Kegiatan ini memperkuat nilai kebersamaan dan menjaga keharmonisan dalam komunitas.

Puncak Nyadran ditandai dengan kenduri, di mana warga berkumpul untuk makan bersama dan berdoa. Acara ini menjadi wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempererat hubungan sosial antarwarga.

Di setiap daerah, Nyadran memiliki ciri khas tersendiri sesuai kearifan lokal. Di Temanggung dikenal sebagai Sadranan, sementara di Jawa Timur ada tradisi Manganan atau Sedekah Bumi. Meski tata cara berbeda, inti kegiatan tetap sama: mempererat silaturahmi, menanamkan rasa syukur, dan menguatkan solidaritas sosial.

Hingga kini, meski zaman terus berubah, Nyadran tetap lestari. Tradisi ini mengajarkan generasi muda tentang penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, dan introspeksi diri, menjadikannya salah satu kekayaan budaya yang mempersatukan masyarakat Jawa di tengah modernisasi. (*)

TERKINI
Ini Beda Kandungan Putih dan Kuning Telur bagi Kesehatan Mengenal Jenis-jenis Asma yang Perlu Diketahui Doa Menyembelih Hewan Kurban Iduladha, Lengkap dengan Arab dan Artinya Tak Dibuang, Ini Takdir Kiswah Ka`bah Usai Dilepas Menjelang Puncak Haji