Kamis, 15/01/2026 12:15 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Isra Mi’raj merupakan peristiwa agung dalam sejarah Islam yang diperingati umat Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peristiwa ini menandai perjalanan istimewa Nabi Muhammad SAW sekaligus turunnya perintah salat wajib.
Perjalanan Isra Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjid Al-Aqsha di Palestina sebelum Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha. Momentum sakral ini kemudian diperingati dengan beragam tradisi lokal, salah satunya di Cirebon, Jawa Barat.
Di Cirebon, Jawa Barat, peringatan Isra Mi’raj dikenal dengan sebutan Rajaban dan telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi ini diisi dengan ziarah, kenduri, hingga pengajian sebagai wujud ibadah serta kebersamaan masyarakat.
Salah satu unsur penting dalam Rajaban adalah kehadiran nasi bogana sebagai hidangan khas. Sajian ini tidak hanya berfungsi sebagai santapan, tetapi juga simbol nilai spiritual dan sosial.
5 Rekomendasi Tempat Wisata di Bogor untuk Liburan Akhir Pekan
Sebuah Mobil Ringsek Usai Tertabrak KRL di Bogor
4 Pemandian Air Panas Alami di Jawa Barat, Cocok untuk Hangatkan Tubuh
Dikutip dari berbagai sumber, nasi bogana melambangkan kebersahajaan dan semangat berbagi. Melalui tradisi Rajaban, masyarakat mempererat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah ketika memperingati peristiwa Isra Mi`raj.
Secara etimologis, kata bogana berasal dari bahasa Sunda “saboga-bogana” yang berarti seada-adanya. Makna ini merujuk pada penggunaan bumbu dapur sederhana yang tersedia, seperti bawang, kunyit, serai, dan rempah lainnya.
Nasi bogana merupakan kuliner khas Cirebon yang sejak lama menjadi sajian istimewa di lingkungan keraton. Hidangan ini dikenal sebagai menu tradisional empat keraton Cirebon, yakni Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan, dan Kacirebonan.
Secara turun-temurun, nasi bogana disajikan dalam berbagai upacara adat dan perayaan keagamaan. Hidangan ini biasanya hadir dalam tradisi suraan, rajaban, dan syabanan, serta pada Idul Fitri dan Idul Adha.
Sultan Kacirebonan, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat, menuturkan bahwa nasi bogana merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, demikian dikutip laman Budaya Indonesia. Filosofi bogana mengajarkan bahwa sedekah tidak harus mewah, tetapi cukup dilakukan dengan keikhlasan.
Secara visual, nasi bogana disajikan dalam bentuk kerucut menyerupai tumpeng. Warna kuning pada nasi melambangkan rasa syukur, sementara bentuk mengerucut ke atas mencerminkan doa kepada Tuhan.
Ciri khas nasi bogana keraton terletak pada lauk-pauk yang dimasukkan langsung ke dalam nasi tumpeng. Ayam kampung, tempe, tahu, hingga telur dikukus bersama nasi sebagai simbol pengendalian diri dan kesederhanaan.
Kini, nasi bogana tidak lagi terbatas di lingkungan keraton. Masyarakat Cirebon kerap menyajikannya dalam acara syukuran dengan tampilan yang lebih variatif dan menggugah selera.
Di sejumlah prosesi Rajaban, nasi bogana juga disantap bersama usai kenduri, ziarah dan tahlilan. Kebersamaan terasa kental saat warga, perangkat kelurahan, dan keluarga keraton duduk bersama menikmati hidangan tersebut.
Melalui nasi bogana, tradisi Rajaban tidak hanya merawat nilai keagamaan, tetapi juga menjaga warisan kuliner dan budaya Cirebon. Di tengah perubahan zaman, sajian ini tetap menjadi simbol hidupnya Islam Nusantara yang membumi dan bersahaja. (*)