Jum'at, 02/01/2026 15:44 WIB
Dubai, Jurnas.com - Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed Al-Jaber, melontarkan kekesalannya di platform X, usai izin mendaratnya ditolak oleh pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC), Aidarus Al-Zubaidi yang didukung Uni Emirat Arab (UEA).
Penghentian penerbangan di Bandara Internasional Aden menjadi sinyal baru krisis yang semakin dalam antara kekuatan Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang persaingannya mengubah kondisi Yaman sejak dilanda perang.
"Selama beberapa minggu dan hingga kemarin, Kerajaan (Saudi) berusaha melakukan segala upaya dengan Dewan Transisi Selatan untuk mengakhiri eskalasi, tetapi menghadapi penolakan dan sikap keras kepala terus-menerus dari Aidarus Al-Zubaidi," kata Mohammed Al-Jaber, dikutip dari Straits News pada Jumat (2/1).
Mohammed Al-Jaber menambahkan bahwa Zubaidi mengeluarkan arahan untuk menutup lalu lintas udara di bandara Aden pada Kamis (1/1), dan mengatakan bahwa sebuah pesawat yang membawa delegasi Saudi ke Aden yang bertujuan untuk mencari solusi atas krisis tersebut ditolak izinnya untuk mendarat.
Saudi Berlakukan Aturan Baru Masuk Makkah jelang Musim Haji
DPR Pastikan Penyelenggaraan Haji 2026 Berjalan Aman dan Nyaman
Kompleks Industri Petrokimia Saudi Dihantam Serangan Udara Iran
Sementara itu, dalam sebuah pernyataan pada hari hari yang sama, Kementerian Transportasi di bawah STC menuduh Saudi memberlakukan blokade udara, dengan mengatakan bahwa Riyadh mengharuskan semua penerbangan untuk melalui Arab Saudi untuk pemeriksaan tambahan.
UEA mendukung STC yang merebut sebagian besar wilayah Yaman selatan bulan lalu dari pemerintah yang diakui secara internasional, termasuk Arab Saudi. Namun kini, raksasa minyak melihat langkah itu sebagai ancaman.
Diketahui, Bandara Internasional Aden adalah pintu gerbang utama bagi wilayah-wilayah negara yang berada di luar kendali Houthi. Terkait penolakan izin itu, STC belum memberikan komentar apapun.