Sabtu, 27/12/2025 18:57 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Media sosial (medsos) memudahkan orang berkenalan lintas wilayah dan latar belakang, namun juga membuka ruang bagi prank dan identitas palsu yang merugikan.
Agar pengalaman berkenalan tetap aman dan nyaman, pengguna perlu memahami risiko interaksi daring yang kerap dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
Langkah awal yang penting adalah memperhatikan konsistensi informasi profil, mulai dari nama, pekerjaan, hingga aktivitas yang dibagikan secara publik.
Akun prank umumnya menampilkan detail yang berubah-ubah, sulit diverifikasi, atau tidak sejalan dengan jejak digital di platform lain. Foto profil yang terlalu sempurna patut dicurigai karena sering berasal dari hasil unduhan internet atau manipulasi visual tertentu.
Kamboja Tutup 190 Pusat Penipuan Online dalam Operasi Besar
Catat Ya! Ini Tips Aman Belanja Online agar Tidak Tertipu
DPR Minta Polri Perkuat Respons Cepat dan Mitigasi Tangani Penipuan Online
Pengguna sebaiknya menahan diri untuk tidak membagikan data pribadi seperti alamat rumah, nomor identitas, atau informasi keluarga sejak awal perkenalan.
Komunikasi melalui panggilan suara atau video dapat membantu memastikan lawan bicara benar-benar nyata dan bukan sekadar akun fiktif. Pelaku prank biasanya menghindari interaksi langsung dengan alasan teknis berulang yang tidak pernah benar-benar terselesaikan.
Gaya komunikasi yang terlalu emosional, terburu-buru, atau memancing empati ekstrem sering menjadi tanda pendekatan manipulatif. Janji pertemuan, hadiah, atau peluang kerja yang terdengar terlalu ideal sebaiknya disikapi dengan logika dan kehati-hatian.
Fitur pencarian gambar balik dapat dimanfaatkan untuk mengecek apakah foto profil digunakan oleh akun lain di internet. Jika kejanggalan terus muncul, membatasi komunikasi merupakan langkah bijak demi menjaga keamanan dan kesehatan mental pribadi.
Dengan literasi digital yang baik, perkenalan daring tetap dapat berlangsung positif tanpa terjebak prank yang merugikan.