Rabu, 24/12/2025 17:55 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sudah menjadi hal yang lumrah banyak brand dan mal yang memberikan diskon besar-besaran saat memasuki liburan akhir tahun. Fenomena ini memicu munculnya perilaku konsumtif atau Fear of Missing Out (FOMO).
Hal ini tak selalu baik. Meskipun ada kalanya kamu butuh memberikan penghargaan terhadap diri sendiri (self-rewards), FOMO hanya akan membuat kamu menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan.
Perilaku boros saat liburan seringkali dipengaruhi oleh faktor psikologis, bukan semata karena rendahnya literasi keuangan. Menurut Rudi, diskon sering menciptakan `ilusi berhemat` yang justru mendorong pembelian barang secara spontan tanpa manfaat yang jelas.
Terlebih di era digital, tekanan sosial untuk memamerkan kebahagiaan liburan di media sosial membuat keputusan konsumsi menjadi tidak rasional.
Pakar Unair Desak Penelitian Serius soal Penyakit Marek
Pakar Unair Minta Pemerintah Analisis Lonjakan Kasus Flu
"Pengeluaran lebih didorong oleh keinginan sesaat dibandingkan pertimbangan rasional terutama berkaitan dengan kebutuhan," kata Rudi.
2. Terapkan Rumus 20-30 PersenAgar tidak mengalami krisis keuangan pasca-liburan, Rudi menyarankan untuk melakukan penganggaran (budgeting) yang disiplin. Dia merekomendasikan sebuah rumus sederhana dalam mengelola uang saku.
"Salah satu pendekatan sederhana adalah mengalokasikan maksimal 20-30 persen uang saku bulanan untuk kebutuhan hiburan dan leisure selama liburan," ujar dia.
Sementara sisanya, harus tetap diprioritaskan untuk kebutuhan rutin dan tabungan. Batasan ini berfungsi sebagai pagar psikologis, agar tidak terbuai oleh potongan harga yang fantastis.
3. Hindari Jebakan PaylaterSatu hal yang menjadi perhatian serius Dekan FEB UNAIR ini ialah maraknya penggunaan fitur Buy Now Pay Later (paylater) di kalangan masyarakat. Rudi menilai bahwa paylater sejatinya adalah utang jangka pendek yang berisiko membebani masa depan dengan bunga atau denda tinggi.
Dia berpesan agar tidak menggunakan fasilitas utang hanya demi gengsi atau mengikuti tren liburan. "Penting bagi masyarakat untuk menerapkan mindset: Jika belum memiliki pendapatan tetap, maka prinsipnya sederhana: jangan membiayai gaya hidup dengan utang," dia menambahkan.
4. Liburan Bermakna Tidak Harus MahalEsensi liburan adalah untuk mengisi ulang energi (recharge), bukan sekadar bepergian jauh atau ke tempat mahal. Meskipun anggaran terbatas tapi tetap bisa menikmati liburan berkualitas dengan melakukan hobi, berkumpul dengan keluarga, atau kegiatan yang meningkatkan kapasitas diri.
Rudi menekankan pentingnya kesiapan finansial untuk menghadapi semester baru. Jangan sampai kondisi `kantong kering` pascaliburan justru mengganggu fokus belajar.
"Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya," ujar dia.