Masuk Angin, Kenapa Istilah Ini Hanya Ada di Indonesia?

Kamis, 13/11/2025 20:43 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Istilah `masuk angin` sangat akrab di kalangan masyarakat Indonesia sebagai penjelasan atas perasaan badan tidak nyaman seperti meriang, perut kembung, pegal-pegal, atau kurang enak badan secara umum.

Menariknya, istilah ini nyaris tidak dikenal dalam terminologi medis internasional karena pengertian dan penyebabnya tidak spesifik seperti penyakit bakteri atau virus tertentu.

Menurut para dokter, kondisi yang disebut masuk angin biasanya adalah kumpulan gejala non-spesifik yang sebenarnya bisa merupakan infeksi saluran pernapasan atas, flu ringan, kelelahan, atau bahkan masalah pencernaan.

Alasan istilah ini populer di Indonesia antara lain karena budaya tradisional yang mengaitkan rasa dingin atau angin masuk ke tubuh, dengan gejala fisik seperti kembung dan menggigil.

Seiring waktu, adaptasi budaya dan bahasa membuat istilah ini melekat sebagai penyakit ringan yang mudah diterima oleh masyarakat sebagai penjelasan cepat atas tubuh yang tidak fit.

Dari sudut medis, kondisi tersebut bukanlah diagnosis tunggal, melainkan tanda bahwa daya tahan tubuh sedang turun dan tubuh mungkin sedang melawan infeksi atau kondisi stress metabolik.

Untuk menangani yang disebut masuk angin, dokter menyarankan istirahat cukup, konsumsi cairan, dan penguatan nutrisi, bukan semata menerima angin sebagai penyakit tersendiri.

Penggunaan jamu atau ramuan tradisional memang sering terjadi sebagai respons budaya terhadap masuk angin, namun tetap perlu waspada bila gejala memburuk atau disertai demam tinggi dan sesak napas.

Karena istilah ini memang lokal, penting bagi masyarakat dan praktisi kesehatan untuk menyadari bahwa di balik masuk angin bisa tersembunyi kondisi yang lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat.

TERKINI
Warga Beirut Selatan Masih Takut Menetap di Rumah Pasca Gencatan Senjata Delegasi Dunia Kagumi Kearifan Lokal di Lapas Bangli dan Bapas Karangasem 10 Ucapan Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika 2026 yang Penuh Makna 71 Tahun Konferensi Asia Afrika: Warisan Bandung di Tengah Dunia Bergejolak