Mengenal Tradisi Rambu Solo yang Bikin Pandji Kena Somasi

Rabu, 05/11/2025 12:44 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Nama komika Pandji Pragiwaksono kembali ramai diperbincangkan usai pernyataannya tentang tradisi Rambu Solo dianggap menyinggung masyarakat Toraja.

Tak lama kemudian, pihak adat melayangkan somasi terhadap komedian dan pembicara tersebut. Meski Pandji akhir meminta maaf dan mengklarifikasi ucapannya, apa sebenarnya makna di balik tradisi Rambu Solo?

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan. Tradisi ini bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal.

Dalam kepercayaan Toraja, upacara tersebut menjadi jalan bagi arwah menuju alam para leluhur. Ritual ini sering berlangsung selama beberapa hari, dengan rangkaian kegiatan seperti persembahan hewan kurban, nyanyian adat, hingga tarian ritual.

Kerbau menjadi simbol penting dalam Rambu Solo karena diyakini dapat mengantarkan roh almarhum ke alam baka. Tak heran jika jumlah kerbau yang dikorbankan menjadi simbol status sosial keluarga yang berduka.

Di sisi lain, sebagian masyarakat menilai tradisi ini terlalu mahal dan berpotensi menimbulkan beban ekonomi bagi keluarga. Pandji melalui kontennya mencoba menyoroti hal ini. Namun, penyampaiannya dianggap tidak sensitif terhadap nilai-nilai budaya setempat, sehingga memicu reaksi keras.

Meski begitu, banyak pihak menganggap kejadian ini sebagai pembelajaran penting tentang cara berdiskusi soal budaya tanpa menyinggung keyakinan masyarakat adat. Sebab, tradisi bukan hanya soal ritual, tapi juga identitas dan warisan leluhur.

Rambu Solo sendiri telah diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Upacara ini menunjukkan betapa masyarakat Toraja memiliki pandangan mendalam terhadap kehidupan dan kematian. Nilai gotong royong dan kebersamaan juga menjadi bagian penting dari pelaksanaan upacara.

Kini, di era modern, sebagian masyarakat Toraja mencoba menyesuaikan pelaksanaan Rambu Solo agar lebih sederhana tanpa kehilangan makna spiritualnya. Adaptasi ini menjadi jalan tengah antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat.

TERKINI
CENTOM Sebut Hampir 400 Tentara AS Terluka dalam Perang Iran Tanda Tubuhmu Perlu Detoks Media Sosial, Baik untuk Mental Vidic Nilai Carrick Sosok yang Tepat Tangani Manchester United Faizal Assegaf Laporkan Jubir KPK ke Dewas