Jum'at, 27/09/2024 20:05 WIB
Beijing, Jurnas.com - Hingga Agustus 2024, Diler mobil di China dilaporkan alami kerugian gabungan sebesar 138 miliar yuan (US$ 19,6 miliar) atau sekitar Rp 297 triliun.
Nikkei Asia melaporkan jika kerugian ini terjadi akibat persaingan harga yang semakin ketat.
Data The China Automobile Dealers Association (CADA), banyak dealer rugi besar dan menghadapi kesulitan dalam mempertahankan operasional bisnisnya.
Tingginya tingkat persediaan kendaraan disebabkan oleh lemahnya daya beli konsumen, serta tekanan dari produsen mobil yang memaksa dealer menumpuk stok. Menurut laporan CADA, dealer yang kekurangan modal terpaksa menjual mobil dengan diskon besar.
Panduan Urutan Ibadah Haji dari Awal hingga Akhir
KPK Dalami Pertemuan Hilman Latief dan Yaqut Cholil Bahas Kuota Haji
Kasus Kanker Kolorektal pada Anak Muda Meningkat, Ilmuwan Ungkap Pemicunya
"Perang harga ini mengakibatkan banyak dealer menjual mobil di bawah harga pasar, sehingga semakin banyak unit yang terjual justru menambah kerugian," ungkap laporan tersebut.
CADA juga menyoroti perlunya dukungan finansial dan pemberian insentif tambahan kepada pembeli mobil untuk mendorong pasar. Laporan tersebut meminta pemerintah untuk mengarahkan lembaga keuangan agar memberikan pinjaman kepada dealer.
"Kolaborasi antara pemberi pinjaman dan dealer mobil diharapkan dapat membantu menstabilkan kondisi pasar," tulis laporan tersebut.
Keyword : Diler Mobil China Perang Harga