Kamis, 26/10/2023 10:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri BUMN Erick Thohir klaim jika mayoritas perusahaan negara telah tinggalkan zona dominasi utang, terutama dalam pengelolaan keuangan perusahaan.
Dengan kata lain, perseroan mampu menurunkan tingkat utang dibanding investasi tertanam dari 36,2% pada tahun 2021, menjadi 34,9% pada tahun 2022.
"Mayoritas BUMN juga sudah jauh meninggalkan zona dominasi utang dalam pengelolaan keuangannya, atau sehat," ujar Erick, Rabu (25/10/2023).
Posisi utang perusahaan pelat merah mengalami kenaikan hingga menjadi Rp1.640 triliun pada 2022. Tahun sebelumnya, utang perusahaan ada di angka Rp1.580 triliun.
Alasan Salat Tahiyyatul Masjid Sangat Ditekankan
Kawasan Transmigrasi Disiapkan jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Ini Zodiak yang Dikenal Paling Jago Menggoda, Siapakah Dia?
Meski naik, Erick Thohir mengatakan, BUMN ekuitas perseroan juga tumbuh. Selain itu, modal BUMN lebih besar dari utang yakni Rp3.150 triliun naik dari Rp2.778 pada 2021.
Di sisi aset, juga mengalami pertumbuhan dari Rp8.978 triliun pada 2021 menjadi Rp9.789 triliun pada 2022. Kenaikan ekuitas dan asset inilah meyakini Erick bahwa BUMN masih dalam kondisi sehat.
Sementara, laba bersih secara konsolidasi pada semester I/2023 mencapai Rp183,9 triliun. Jumlah itu naik 12,9% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
“Sekarang, BUMN semakin sehat, tangguh, dan kompetitif. Di semester pertama tahun 2023 ini, aset kita Rp9.842 triliun naik 3,9% year on year, dan laba bersih Rp184 triliun, naik 13% year on year," bebernya.
Atas dasar itu semua, Erick optimis, BUMN mampu menyetorkan dividen Rp80,6 triliun pada tahun ini. Angka ini lebih tinggi dari dividen 2022 sebesar Rp80,2 triliun. Dan menjadi yang terbesar dalam sepanjang sejarah Kementerian BUMN.
Keyword : BUMN Erick Thohir Utang