Senin, 14/08/2023 09:43 WIB
Jurnas.com – Salah satu alasan untuk berlaku bijak saat berinteraksi di media sosial, yakni banyaknya hoaks yang tersebar di dunia digital. Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mencatat, ada 90 persen lebih berita bohong yang disengaja, 61 persen berita yang menghasut, 59 persen berita tidak akurat.
”Berita bohong dan informasi keliru (hoaks) merupakan musuh kesehatan jiwa masyarakat,” ujar Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Prof. Widodo Muktiyo dalam diskusi literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama pemerintah kota Tangerang, di Taman Elektrik Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, Banten, Minggu (13/8).
Diskusi lintas komunitas yang dilaksanakan ”chip in” di ajang Tangerang Digifest ini berlangsung semarak, dihadiri ribuan warga masyarakat, dengan menghadirkan bintang tamu Kangen Band. Sejumlah komunitas ikut bergabung sebagai peserta. Di antaranya: Komunitas Kotret, Honda Win Tangkot, Owner Millo’z, Tangerang Bergerak, Komunitas OTW, dan Komunitas Cangkir Jalanan.
Widodo Muktiyo mengatakan, manusia Indonesia memiliki modalitas kecerdasan yang mampu menangkal hoaks. Kecerdasan itu bersumber dari potensi manusia (intellectual intelligence, spiritual intelligence, dan emotional intelligence), ditambah kecerdasan yang bersumber dari potensi teknologi dan nilai ke-Indonesiaan.
Budi Arie Bantah Terima 50 Persen Dari Pengamanan Situs Judol
Disebut Dapat Komisi 50 Persen, Status Budi Arie Jadi Wewenang Polda Metro
Budi Arie Berpeluang Jadi Saksi di Sidang Kasus Situs Judol
”Dengan tiga modal kecerdasan itu, utamanya eksplorasi nilai-nilai ke-Indonesiaan, masyarakat Indonesia akan mampu menangkal hoaks dan mempu berlaku bijak saat bermedia digital,” tegas Widodo Muktiyo dalam diskusi bertajuk ”Bijak Berinteraksi di Media Sosial” yang dipandu moderator Raka Maukar itu.
Untuk memerangi hoaks, lanjut Widodo, Kemenkominfo sesungguhnya telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya dengan melaksanakan diskusi literasi digital, sebagai edukasi dan pemberian wawasan kepada masyarakat terkait pemanfaatan internet dan media sosial.
”Sedangkan upaya penindakan (hukum) dilakukan dengan melaksanakan proses penegakan hukum terhadap pelaku pembuat dan penyebar hoaks dan ujaran kebencian bekerja sama dengan Polri, maupun penutupan situs dan konten penyebar hoaks dan ujaran kebencian,” jelas Guru Besar FISIP UNS tersebut.
Widodo Muktiyo menambahkan, upaya pencegahan hoaks juga bisa dilakukan dengan cara mengklarifikasi ke website www.cekhoaks.id. ”Masyarakat bisa menggunakan berbagai media klarifikasi untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi terhadap isu hoaks,” pungkasnya.
Dari perspektif berbeda, Kepala Dinas Kominfo Kota Tangerang Indri Astuti mengatakan, bijak dalam berinteraksi di media sosial dapat dibentuk dengan cara memahami empat pilar utama literasi digital, yakni: kecakapan digital (digital skill), etika digital (digital ethics), keamanan digital (digital safety), dan budaya digital (digital culture), menjadikan pengguna bijak berinteraksi di dunia maya.
”Implementasi empat pilar berfungsi untuk meningkatkan literasi digital masyarakat melalui berbagai program seminar literasi digital untuk UMKM, pelajar sekolah, maupun program pelatihan internet yang sehat dan aman, serta pelatihan pemanfaatan media sosial,” jelas Indri Astuti.
Sementara, pengamat media dan komunikasi publik Sopril Amir menyebut bijak berinteraksi di media sosial membutuhkan pemahaman etika digital. Etika digital dianggap penting karena pengguna internet bisa berasal dari berbagai latar belakang dengan bahasa, budaya, dan keyakinan masing-masing, sehingga rentan terjadi salah paham dan permusuhan.
”Selain itu, kekaburan identitas (anonymity) karena ketakhadiran fisik sangat membuka kemungkinan untuk bertindak buruk tanpa ketahuan. Untuk itu, warganet harus mampu menahan diri dan tetap waspada,” tandas Sopril Amir.
Diskusi literasi digital pada lingkup komunitas, untuk diketahui, merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia #MakinCakapDigital (IMCD). IMCD diinisiasi Kemenkominfo untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga tahun 2024.
Tahun ini, program #literasidigitalkominfo tersebut mulai dilaksanakan sejak 27 Januari 2023. Program Kemenkominfo yang berkolaborasi dengan Siber Kreasi dan 18 mitra jejaring ini membidik segmen pendidikan dan segmen kelompok masyarakat sebagai peserta.
Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dan info kegiatan dapat diakses melalui website info.literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Page, dan kanal YouTube Literasi Digital Kominfo.
Keyword : KemenkominfoIMCDDiskusi Literasi Digital