Senin, 24/07/2023 05:30 WIB
Kolombo, Jurnas.com - Aparat keamanan Sri Lanka terus memperketat keamanan dalam peringatan Kerusuhan Anti-Tamil pada Minggu (23/7). Para peserta aksi menyalakan lampu minyak di ibu kota Kolombo, untuk mengenang ratusan orang yang tewas dalam tragedi 1983 tersebut.
"Jangan lupakan pembantaian orang Tamil," demikian bunyi salah satu spanduk peserta aksi dikutip dari AFP. Spanduk itu dibawa oleh anggota Solidaritas Utara-Selatan, kelompok pembela hak asasi dari Sinhala dan Tamil.
Puluhan aktivis menyalakan lampu minyak kelapa dan lilin di luar pemakaman utama Kolombo, tempat kekerasan antar-komunal dimulai 40 tahun lalu.
Pemerintah saat itu berusaha melakukan pemakaman massal untuk 13 tentara Sinhala yang tewas dalam serangan ranjau darat pemberontak Tamil pada 23 Juli 1983. Namun, kerabat menuntut pemakaman individu.
Sri Lanka Tangkap Sembilan WN China, Diduga Selundurkan Alat Scam
Sri Lanka Pulangkan Ratusan Awak Kapal Perang Iran
IMF Cairkan Pinjaman US$700 Juta untuk Sri Lanka, Desak Percepatan Reformas
Situasi ini menyebabkan masyarakat bentrok dengan polisi, sebelum mengalihkan serangan mereka ke toko-toko milik orang Tamil dan orang Tamil di daerah tersebut. Serangan berlanjut selama enam hari dan berubah menjadi kekerasan mematikan.
Menurut angka perkiraan resmi, korban tewas akibat kerusuhan mencapai 400-600 orang. Namun, kelompok Tamil mengatakan bahwa jumlah sebenarnya mencapai ribuan.
Dalam peringatan yang berlangsung Minggu malam, pihak berwenang mengerahkan pasukan bersenjata lengkap yang melebihi jumlah pengunjuk rasa. Polisi sempat terlihat menendang dan menginjak lampu minyak yang diletakkan di sepanjang trotoar tepat di luar pemakaman.
Keyword : Peringatan Anti-Tamil Sri Lanka Pemberontakan