Jum'at, 07/07/2023 14:19 WIB
Beijing, Jurnas.com - Kematian penyanyi pop, Coco Lee, dalam usia 48 tahun akibat depresi, memicu diskusi serius tentang masalah kesehatan mental di media sosial China.
Dua kakak perempuan Lee, Carol dan Nancy, dalam sebuah unggahan Facebook mengungkapkan bahwa Lee meninggal dunia setelah koma sejak mencoba bunuh diri pada akhir pekan lalu. Dikatakan pula, Lee depresi dalam beberapa tahun terakhir.
Di media sosial China, banyak warganet tidak percaya dengan kematian Lee. Banyak yang meyakini Lee hidup tenang, karena kerap tampil di atas panggung dengan senyuman khasnya.
"Saya tidak percaya ini. Dia selalu menjadi gadis sinar matahari yang suka menyanyi, menari, dan tersenyum," tulis salah seorang warganet di Weibo dikutip dari BBC pada Jumat (7/7).
Tanda Tubuhmu Perlu Detoks Media Sosial, Baik untuk Mental
Bertemu Dubes China, Mendes Dorong Kerja Sama Pengentasan Daerah Tertinggal
PM Spanyol Minta China Ambil Peran Lebih Besar di Panggung Global
"Apakah masih ada orang yang bahagia di dunia ini?" imbuh netizen lainnya.
Sementara itu, tagar `seberapa dekat Anda dengan depresi` dan `gejala depresi mendominasi berbagai platform daring. Media pemerintah termasuk CCTV, People`s Daily, dan China Daily mengeluarkan konten untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental.
"Orang-orang dapat merasakan bahwa ini tampaknya menjadi masalah yang semakin mendesak," ujar asisten profesor sosiologi di Shanghai New York University.
Depresi atau penyakit mental apapun stigma buruk di tengah masyarakat China. Bahasa China untuk penyakit mental, `jingshen bing`, terdengar mirip dengan istilah menghina untuk orang gila, `shenjing bing`. Karena itu, orang yang memiliki masalah kesehatan mental akan selalu dilihat sebagai orang gila.
Keyword : Kesehatan Mental China Coco Lee