Rabu, 05/07/2023 13:05 WIB
Washington, Jurnas.com - Pusat Prediksi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Senin, 3 Juli 2023 lalu merupakan hari terpanas sepanjang sejarah di dunia.
Dikutip dari Reuters pada Rabu (5/7), Suhu global rata-rata mencapai 17,01 derajat celcius, melampaui rekor Agustus 2016 sebesar 16,92 celcius saat gelombang panas hampir merata di seluruh dunia.
AS bagian selatan mengalami cuaca panas yang hebat dalam beberapa minggu terakhir. Di China, gelombang panas terus berlanjut, dengan suhu di atas 35 celcius. Afrika Utara lebih buruk dengan suhu mendekati 50 celcius.
Bahkan Antartika, saat ini di musim dinginnya, mencatat suhu yang sangat tinggi. Basis Penelitian Vernadsky Ukraina di Kepulauan Argentina di benua putih baru-baru ini memecahkan rekor suhu bulan Juli dengan suhu 8,7C.
Rekomendasi Warna Rumah yang Cocok untuk Daerah Panas
Ilmuwan Temukan Tanaman Terus Naik ke Puncak Himalaya, Ini Penyebabnya
Studi Ungkap Batas Suhu Padi, Indonesia Hadapi Ancaman Penurunan Produksi
"Ini bukan tonggak sejarah yang harus kita rayakan," kata ilmuwan iklim Friederike Otto dari Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham di Imperial College London Inggris.
"Ini adalah hukuman mati bagi manusia dan ekosistem," imbuh dia.
Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim yang dikombinasikan dengan pola El Nino merupakan salah satu penyebabnya.
"Sayangnya, ini menjanjikan hanya menjadi yang pertama dari serangkaian rekor baru yang ditetapkan tahun ini karena meningkatnya emisi dan gas rumah kaca, ditambah dengan peristiwa El Nino yang meningkat mendorong suhu ke level tertinggi baru," terang Zeke Hausfather, ilmuwan di Berkeley Earth.