Jum'at, 16/06/2023 11:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kemarahan merupakan sesuatu yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak akar dari rasa marah, di antaranya ketakutan atau stres berkelanjutan.
Menurut laporan Mental Health Foundation, 12 persen manusia berjuang mengendalikan amarah, 28 persen khawatir tentang kemarahannya, dan 64 persen yakin tidak semua marah itu buruk.
"Kemarahan adalah salah satu emosi yang paling membantu, asalkan Anda dapat belajar mengatasinya. Anda tidak dapat memproses apa yang tidak dapat Anda kenali," kata pakar kesehatan mental, Gurpreet Singh, dikutip dari Daily Star pada Jumat (16/6).
Berikut ini empat resep jitu mengendalikan amarah:
Tanda Tubuhmu Perlu Detoks Media Sosial, Baik untuk Mental
Studi Terbaru: Screen Time Bisa Perparah Masalah Sosial dan Emosional Anak
5 Manfaat Melakukan `Solo Date` Bagi Kesehatan Mental
1. Pahami asalnya
Sebaiknya cari tahu akar masalah yang menyebabkan Anda marah. Barangkali, ada sesuatu yang seharusnya Anda selesaikan supaya tidak marah.
"Tidak jarang menemukan bahwa ketika Anda berpikir Anda marah tentang sesuatu, Anda sebenarnya marah tentang hal lain," terang Gurpreet.
"Kamu mungkin berdebat dengan pasanganmu tentang piring, tapi bisa jadi sebenarnya kemarahan itu tentang ketidakadilan dalam hubungan," imbuh dia.
2. Marah
Ya, Anda tidak salah membaca. Cara mengendalikan amarah, dengan melampiaskan kemarahan tersebut. Pasalnya, memendam emosi ini justru lebih buruk akibatnya.
"Kemarahan seharusnya memberi Anda energi, untuk membantu Anda berdiri dan melakukan hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan tanpanya," ujar dia.
3. Ambil waktu sejenak
Jangan sampai kemarahan menguasai diri Anda, dan malah menimbulkan masalah ke mana-mana. Sebaiknya, memberi diri Anda waktu beberapa saat untuk memikirkan kemarahan tersebut.
"Berteriaklah ke bantal, menangislah, jalan-jalan, atau bakar adrenalin," tutur dia.
4. Minta bantuan pakar
Jika merasa terlalu sering marah, maka Anda tampaknya harus mendapatkan konseling dari pakar mental. Sebab, dalam banyak kasus, kemarahan merupakan respons terhadap trauma sebelumnya.