Jum'at, 28/04/2023 10:14 WIB
Oleh: Iwan Nurdin*
Prabowo digadang-gadang untuk berpasangan dengan Airlangga dalam pilpres. Namun melupakan bahwa duet pasangan ini begitu mudah diasosiasikan dengan Poros Cendana-Orde Baru sebagai poros masa lalu.
Pemasangan yang demikian ini tentu akan menguntungkan kedua kandidat capres lainny. Sebab memusatkan kekuatan pemilih untuk lebih memilih Ganjar Pranowo yang secara mudah mengasosiasikan diri sebagai penerus rezim dan Anies Baswedan yang menyebut dirinya kelompok perubahan.
Simulasi semacam ini yang merupakan keinginan segelintir faksi di Gerindra, dan mayoritas di Golkar dan di luar kedua kelompok ini sehingga tercipta pasangan Prabowo-Airlangga adalah jebakan politik yang kejam.
Menko PM: MBG Penggerak Ekosistem Ekonomi Lokal dari Desa hingga Nasional
Temui Macron, Prabowo Bahas Kerja Sama Militer Indonesia-Prancis
Menko Muhaimin Ajak Puluhan Media Homeless Kolaborasi untuk Pemberdayaan
Simulasi pasangan ini sesungguhnya sangat merugikan karena mudah sekali dijadikan sasaran tembak.
Pertama, Juru Bicara Dan Pimpinan Partai Golkar Tantowi Yahya yang menyebutkan bahwa Gerindra dan Golkar berasal dari rahim yang sama sehingga mudah berkomunikasi adalah pesan bahwa selain memiliki kesamaan sejarah tokoh-tokoh kedua partai ini memiliki segmen dari pasar pemilih yang sama.
Kedua, bagaimanapun Golkar adalah partai penopang Orde Baru yang merepresi partai politik lainnya dan masyarakat dalam iklim anti demokrasi. Sementara Prabowo adalah bagian dari keluarga besar Cendana. Tentu dengan mudah dikampanyekan sebagai Poros Cendana-Orba sehingga sangat mudah dijadikan sasaran kampanye negatif.
Ketiga, Sosok Prabowo sendiri yang masih lekat dalam ingatan aktivis demokrasi dan hak asasi manusia sebagai aktor utama dan pelaku penghilangan paksa sejumlah aktivis yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaanya. Seberapun kuat usaha Prabowo menghilangkan kesan tersebut ingatan publik masih cukup kuat. Bahkan isu inilah yang membuat mayoritas aktivis dan seluruh jaringannya memilih berhadap-hadapan dengan Prabowo pada pemilihan presiden sebelumnya.
Dengan tiga argumentasi sederhana ini saja, pengkondisian agar deklarasi pasangan Prabowo dan Airlangga sesungguhny bunuh diri politik yang diciptakan oleh lawan-lawan politik Prabowo.
Ketidakpercayaan Koalisi Kebangkitan Rakyat untuk segera menentukan Capres dan Cawapres dari masing-masing partai menandakan besarnya tekanan sekaligus disinformasi yang bertujuan untuk memecah keluasan jangkauan pemilih Prabowo dan Gus Muhaimin.
*Aktivis reforma agraria dan HAM