Selasa, 14/02/2023 06:33 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Presiden Moldova, Maia Sandu menuduh Rusia berencana menggunakan sabotase asing untuk menjatuhkan kepemimpinan negara kecilnya, menghentikannya bergabung dengan Uni Eropa dan menggunakannya dalam perang melawan Ukraina.
Dia melontarkan komentar tersebut setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pekan lalu negaranya telah mengungkap rencana intelijen Rusia untuk penghancuran Moldova, dan beberapa hari kemudian pemerintah negara itu mengundurkan diri.
Sandu, yang negaranya berbatasan dengan Ukraina, berulang kali menyatakan keprihatinan tentang niat Moskow terhadap bekas republik Soviet itu dan tentang kehadiran pasukan Rusia di wilayah Transdniestria yang memisahkan diri.
Dia mengatakan rencana tersebut melibatkan warga Rusia, Montenegro, Belarusia dan Serbia memasuki Moldova untuk mencoba memicu protes dalam upaya untuk "mengubah pemerintah yang sah menjadi pemerintah ilegal yang dikendalikan oleh Federasi Rusia".
Bantu Tangkal Drone Iran, Ukraina Minta Imbalan Solar
Rusia Umumkan Gencatan Senjata Lokal di PLTN Zaporizhzhia
Intelijen Kenya Ungkap Bayaran Tentara Rusia, Dua Digit per Bulan!
"Upaya Kremlin untuk membawa kekerasan ke Moldova tidak akan berhasil. Tujuan utama kami adalah keamanan warga negara dan negara. Tujuan kami adalah perdamaian dan ketertiban umum di negara ini," kata Sandu dalam jumpa pers.
Rusia tahun lalu membantah ingin campur tangan di Moldova setelah pihak berwenang di Transdniestria mengatakan mereka telah menjadi sasaran serangkaian serangan.
Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby pada hari Senin mengatakan laporan tentang plot tersebut belum dikonfirmasi secara independen tetapi "sangat memprihatinkan" dan "tentu saja tidak di luar batas perilaku Rusia."
Sumber: Reuters