Soal KLB, Mantan Anggota Komite Etik FIFA Dali Tahir: Jangan Asal Minta Mundur

Jum'at, 28/10/2022 19:25 WIB

Jakarta, Jurnas.com- Isu untuk mendorong Kongres Luar Biasa (KLB) di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyeruak di tengah masyarakat. Dorongan ini muncul seiring dengan lahirnya rekomendasi dari Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) peristiwa pilu dialami sepak bola Indonesia awal bulan Oktober 2022, Tragedi Kanjuruhan.

Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir, ketika ditanyai pendapatnya pun menyampaikan komentar. Dali, yang juga eks Exco AFF ini mengajak semua pihak untuk bersikap arif melihat konteks permasalahan. Menurut sesepuh sepak bola Tanah Air berusia 75 tahun ini, selama 40 tahun pengalamannya berkecimpung di kepengurusan sepak bola, aturan serta proses dalam mendorong sebuah KLB harus diperhatikan.
Dia menjelaskan, pada dasarnys KLB bukan hal dilarang untuk dilakukan di tengah jalannya sebuah periode kepengurusan PSSI. Namun, ia mengatakan, PSSI adalah organisasi yang menjadikan statuta FIFA sebagai pedoman dalam melangkah.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak turut berpegang kepada pedoman tersebut. Hal ini agar sepak bola Indonesia tidak sampai memalingkan sikap dari aturan dari FIFA yang apabila dilangkahi, justru akan mengundang konsekuensi merugikan dari Induk Organisasi Sepak Bola Dunia itu.

"Kita ikuti aturan FIFA. Bila besok harus ada KLB, lusa KLB, kalau semua tiba-tiba. Lalu aturan FIFA harus dikemanakan? FIFA ini organisasi profesional, anggotanya 211 negara, bahkan lebih banyak dari PBB yang beranggotkan 195 negara, PSSI berjalan di koridor aturan," kata tokoh sepak bola yang pada tahun 2004 turut berunding dengan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) dalam merumuskan statuta PSSI ini, Jumat (28/10/2022).

"Memang iya, boleh dibahas soal tanggung jawab moral. Tapi saya di sini berkewajiban menyampaikan, pasal di statuta FIFA itu menyebutkan; menolak dengan keras segala macam bentuk intervensi pihak ketiga dan pemerintah," kata dia.

Oleh karena itu, Dali tak menampik bahwa salah satu rekomendasi yang ditelurkan TGIPF untuk PSSI berpotensi dianggap sebagai bentuk intervensi pihak ketiga oleh FIFA. Rekomendasi itu adalah meminta seluruh pengurus PSSI, termasuk anggota Komite Eksekutif (Exco) untuk mengundurkan diri.

"Tentu ada kecemasan di-banned. Tahun depan ada Piala Dunia U-20. PSSI yang sekarang dipimpin oleh Iriawan ini (Iwan Bule) yang bawa Piala Dunia U-20 ke Indonesia, bila kita diskors sudah pasti Piala Dunia U-20 tidak jadi digelar di sini. Apa kita mau arahnya ke sana?," kata pendiri Galatama ini.

"Minta KLB itu ada frame time-nya. Anggota Exco, kriterianya harus tercatat lima tahun minimal berkecimpung di sepak bola baru boleh mencalonkan diri," ujar Dali.

"Jadi di sinilah, jangan minta mundur asal minta mundur. Manusia itu sudah pasti ada kekurangan, maka ada aturan yang akan membatasinya. Kalau bicara soal baik-buruk, prestasi PSSI sekarang juga ada, kita lihat, timnas kita lagi baik. Ranking di FIFA naik, prestasi juga ada di kelompok umur. Kalau gonta-ganti (pemimpin dan pengurus terus), kapan majunya," kata sosok yang turut mendirikan klub legendaris era galatama, Arseto, ini.

Dali pun mengatakan, kejadian di Stadion Kanjuruhan benar-benar sangat menyayat hati. Ia meminta kepada semua pihak untuk lebih berhati-hati agar korban jiwa tak lagi ada.

"Kejadian itu berlangsung setelah laga selesai. Pengurus PSSI tentu tidak mungkin turun ke lapangan mengusir-usir supaya tidak tumpah ke lapangan. Di situ kan ada pengamanan," kata dia.

"Sekarang kalau sepak bola negara kita ingin atur diri sendiri, ya silakan keluar dari FIFA. Jalan sendiri," ujar Dali.

"Saya harap kita jangan terpuruk, sepak bola kita bisa terus dibenahi. Tahun 1956, saya ikut ayah saya yang diplomat tinggal di Italia. Saat itu negar Italia hancur karena kalah Perang Dunia II. Lalu apa yang dilakukan pemerintah Italia saat itu untuk membangkitkan semangat rakyatnya.

Dengan dua cara, lewat musik dan sepak bola. Kita bisa jadikan bola sebagai alat pemersatu. Kita negara Asia pertama yang mampu merampungkan statuta sepak bola, kita punya kebanggaan dalam sepak bola," ujar Dali.

Maka dari Itu, Dali mengajak semua pihak untuk fokus ke permasalahan. Di sisi lain, sepak bola Indonesia harus terus berjalan.

"Kompetisi itu ibunya sepak bola. Mari bersama dalam sepak bola. Mari kita jalankan semua dengan aturan," ujar Dali.

Keyword : Dali TahirPSSIFIFA

TERKINI
Ini Zodiak yang Dikenal Paling Jago Menggoda, Siapakah Dia? Bukan Hadiah Mewah, 5 Gestur Sederhana Ini Jadi Kunci Hubungan Langgeng Berbagai Amalan Sunah yang Dianjurkan Sebelum Shalat Jumat 7 Negara yang Belum Pernah Lolos ke Piala Dunia