Kamis, 27/10/2022 05:06 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memprediksi pada kuartal ketiga 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,5 persen.
Namun pemerintah harus mewaspadai dampak gejolak perekonomian global terhadap pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal empat ini.
“Pertumbuhan ekonomi kita tahun ini diperkirakan masih cukup kuat, kuartal ketiga bahkan kita berharap bisa di atas 5,5%. Kuartal keempat kita harus waspada terhadap tren pelemahan ekonomi dunia,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara leaders talk series #2 dengan tema "Indonesia Energy Investment Landscape" di Jakarta, Rabu (26/10/2022).
Saat ini telah terjadi pergeseran risiko perekonomian dari sisi pandemi covid-19 ke beberapa hal lain seperti disrupsi rantai pasok, ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina, kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, hingga inflasi.
Tanggapi Menkeu, Eddy Soeparno: Harus Tetap Waspada Penuhi Pasokan Energi
Purbaya Optimistis Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal I 5,7 Persen
Purbaya Sebut Pemerintah Masih Bisa Tahan Harga BBM hingga Akhir Tahun
Dengan adanya disrupsi rantai pasok banyak negara diperkirakan akan mengalami pelemahan pertumbuhan ekonomi. Dampak gejolak ekonomi global tahun 2022 diperkirakan masih akan terus berlanjut pada tahun 2023 nanti.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 sebesar 2,7%, lebih rendah dari proyeksi tahun 2022 yang sebesar 3,2%.
“IMF menyampaikan bahwa tahun 2023 ig disebut gelap. Kalau saya mengatakan begitu saya dianggap menakut-nakuti tetapi sebenarnya enggak, hanya ingin menyampaikan bahwa risiko itu sangat ada,” tutur Sri Mulyani.
Pemerintah akan mengoptimalkan APBN sebagai instrumen untuk meredam gejolak perekonomian global. APBN terus bekerja untuk secara fleksibel melindungi masyarakat.
Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga tahun 2022 ini APBN sudah bekerja keras melalui pelebaran defisit di atas 3% dari produk domestik bruto(PDB). Namun pemerintah juga menjaga kesehatan APBN melalui konsolidasi fiskal di tahun 2023.
“Pada saat ekonomi mulai menguat, kita akan meningkatkan kemampuan untuk membangun ruang fiskal atau buffer karena nanti muncul kebutuhan dimana buffer itu harus dipakai. Jadi kewaspadaan antisipasi dan respons mengharuskan keuangan negara tetap dijaga secara baik. Oleh karena itu saya selalu menyampaikan APBN menunjukan adanya kewaspadaan yang tinggi,” ucap Sri Mulyani.