Selasa, 13/09/2022 07:40 WIB
New York, Jurnas.com - Mantan kepala eksekutif Google, Eric Schmidt menilai perang di Ukraina menjadi bukti efektivitas penggunaan teknologi informasi (IT) kontemporer, mulai dari antena parabola hingga aplikasi ponsel, dalam keadaan kondisi gawat darurat.
Schmidt, yang saat ini menjabat sebagai konsultan pemerintah AS untuk kecerdasan buatan (AI), mengatakan kepada awak media setelah melakukan kunjungan 36 jam ke Ukraina. Dia menyebut sektor teknologi sipil sangat penting bagi pertahanan Kyiv.
Buktinya, sehari setelah pasukan Rusia menyerbu Ukraina pada 24 Februari, anggota legislatif Ukraina menyepakati langkah penting untuk melindungi semua data pemerintah dari peretas Rusia.
"Dalam satu hari, mereka mengadakan rapat parlemen dan mengubah undang-undang itu. Mereka memindahkan semua data mereka dari server pemerintah di Kyiv ke penyimpanan cloud," kata Schmidt dikutip dari AFP pada Selasa (13/9).
Zelensky Geram Trump Longgarkan Sanksi Minyak Rusia
Drone Ukraina Hantam Tiga Kapal Perang Rusia di Krime
Eropa Kekurangan Mesin Jet untuk Sokong Program Drone Ukraina
"Perang memberi semua orang alasan politik untuk melakukan hal yang benar," imbuh dia.
Bukti kedua datang dari miliarder AS Elon Musck, yang mengizinkan Ukraina mengakses sistem broadband berbasis satelit Starlink. Cara ini efektif mengisolasi publik dan militer Ukraina dari serangan Rusia terhadap telekomunikasi.
Musk dan para donor mengirimkan sekitar 20.000 terminal darat dengan antena parabola kecil, yang memungkinkan transmisi setiap hari serta membantu para pejuang dengan data penargetan. Teknologi ini menyulitkan militer Rusia.
"Elon Musk benar-benar pahlawan di sini. Ini memungkinkan strategi mematikan internet oleh oposisi gagal," kata Schmidt.
Sementara itu, ada dua aplikasi melibatkan warga secara langsung. Pertama, menu `E-Enemy` di platform Diia, memungkinkan masyarakat melaporkan hal-hal seperti kerusakan akibat penembakan, atau penampakan pasukan Rusia.
Dan layanan obrolan terenkripsi asal Swiss yang disebut Threema, memungkinkan pengguna mengirim data semacam itu ke militer tanpa mengungkapkan identitas mereka.
Militer mendapatkan ribuan laporan seperti itu setiap hari, lanjut Schmidt, dan menyaringnya dengan program kecerdasan buatan.
"Mereka (tentara Ukraina) akan mengurangi mereka (musuh) menjadi target menggunakan kecerdasan komputer dan kecerdasan manusia dan akhirnya melakukan pengejaran," jelas dia.
Ukraina, yang telah lama menjadi inkubator untuk pemrograman serta keterampilan peretasan ilegal, memiliki tenaga kerja IT handal yang mampu meluncurkan serangan siber terhadap Rusia, serta membobol komunikasi Moskow.
Negara ini juga terampil menggunakan teknik biometrik dan pengenalan wajah untuk mengidentifikasi pasukan Rusia yang terlibat, seperti pembantaian di Bucha pada awal perang. Selain itu, programmer Ukraina terampil dalam membuat drone yang berguna dalam perang.
"Saya hanya dapat melaporkan bahwa berdasarkan sejumlah kecil data saya, industri teknologi Ukraina benar-benar memberikan kontribusi ke depan," tutup Schmidt.