Kamis, 25/08/2022 12:40 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan dan Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN), Alvino Antonio menuding Bansos alias bantuan sosial (Bansos) telur sebagai biang kerok lonjakan harga telur ayam. Bahkan, hingga tembus di atas Rp 30.000/kg.
Merespons tudiangan tersebut, Menteri Sosial Tri Rismaharini buka suara. Perempuan yang akrab disapa Risma ini menegaskan Kementerian Sosial menyalurkan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Rp 200.000 per bulan per keluarga penerima manfaat dalam bentuk uang tunai, bukan telur.
"Yang jelas saya enggak bantu telur, karena enggak mungkin. Gimana cara baginya orang jutaan jumlahnya, kita bagi pecah sampai sana. Kita bantu uang ya," kata Risma, Rabu malam (24/8)
Risma menjelakan keluarga penerima manfaat bisa menggunakan bantuan Rp 200.000 tersebut untuk membeli bahan pangan pokok, termasuk telur. "Enggak ada kita menyiapkan (telur). Bagaimana caranya sekian juta orang kali... Taruh lah satu orang satu kilo saja, 10 juta kilo. Bagaimana dengan 18 juta orang?" katanya.
16 Ucapan HUT Kopassus 2026 yang Penuh Makna
Terancam Krisis Avtur, Uni Eropa Siapkan Rencana Darurat
Martinelli Siap Bawa Arsenal Melangkah Lebih Jauh di Liga Champions
Sebelumnya, Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) mengatakan berdasarkan informasi yang diterima, kenaikan harga telur karena tingginya permintaan untuk pengadaan bantuan sosial atau bansos.
"Kemarin saya cek ke teman-teman, alasannya ada permainan kemarin mereka beli sebanyak-banyaknya, tiba-tiba kan ada bansos. Permintaan banyak di bansos, stok banyak, tiba-tiba naik harganya," kata Ketua PPRN Alvino Antonio kepada wartawan, Jumat (19/8/2022).
Senada, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan penyebab meroketnya harga telur ayam, salah satunya lantaran bansos. "Ini Kementerian Sosial rapel bantuan sosialnya itu 3 bulan dan sebagian besar telur, jadi permintaan tiba-tiba melonjak naik," terang Zulhas di Komplek DPR, Rabu (24/8).
Penyebab lainnya, menurut Zulhas, adalah kegiatan afkir dini. "Oleh karena itu, itu yang pertama sebabnya. Ini kan pengusaha-pengusaha besar apa yang disebut dengan afkir dini. Induknya yang petelur-petelur diafkir dini, disembelih, dijual," tutur Zulhas.