Minggu, 03/07/2022 10:20 WIB
JAKARTA, Jurnas.com - Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan, kondisi anomali cuaca dan serangan hama penyakit yang masif membuat hasil panen cabai petani tidak optimal. Hal ini pun berdampak pada kenaikan harga komoditas tersebut.
Hal tersebut disampaikan saat kunjungan di Desa Sukawangi, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dalam rangka meninjau ketersediaan cabai sekaligus melakukan panen raya cabai, Sabtu (2/7).
"Gejolak harga cabai dipengaruhi oleh kondisi anomali cuaca dan serangan hama penyakit yang masif, sehingga membuat hasil panen petani tidak optimal," kata Mentan Syharul.
Selain itu, kata Mentan Syahrul, gejolak harga cabai juga terjadi setiap tahun, khususnya pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Idulfitri, Iduladha, Natal, dan Tahun Baru.
Kemenhaj Gandeng Bulog dan Kementan Ekspor Beras untuk Konsumsi Jemaah Haji
Mengapa Tahu Sumedang Selalu Jadi Buruan bagi Pecinta Kuliner?
Pupuk Subsidi Siap Diedarkan, Ini Jadwal Distribusinya
"Memang ada dinamika harga menjelang hari raya Iduladha. Dan ini adalah momentum yang terjadi setiap tahun, Idulfitri, Iduladha, Natal, dan Tahun Baru," kata Mentan Syarul.
Di samping itu, lanjut Mentan Syahrul, dibukanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), membuat kebutuhan hotel, restoran, kafe (Horeka), khususnya aneka cabai turut meningkat.
Meski demikian, menurut Mentan Syahrul, berdasarkan data ketersediaan produksi cabai besar nasional pada Juni sebesar 78.040 ton dan cabai rawit 1.723 ton.
Sementara kebutuhan untuk cabai besar diperkirakan 76.317 ton sehingga neraca cabai besar surplus 1.723 ton. Hal yang sama juga terjadi pada cabai keriting, ada surplus 1.403 ton karena kebutuhan nasional bulan Juni diperkirakan 72.159 ton.
Mantan Gubernur dua periode Sulawesi Selatan itu juga berharap Sumedang dapat menyuplai daerah lainnya yang cabainya defisit. "Saya lihat Sumedang ini bagus. Menurut laporan cabainya surplus. Kalau begitu, Sumedang bisa menyuplai daerah lainnya yang defisit," kata SYL.
Wilayah pamulihan merupakan sentra cabai di Sumedang selain di wilayah perkebunan Gunung Sindulang, Cimanggung, dan Wado.
Berdasarkan data early warning system (EWS) bulan Juni hingga Juli, ketersediaan cabai baik cabai besar maupun cabai rawit di Kabupaten Sumedang juga mengalami surplus.
Produksi cabai besar dan rawit Juni, sebanyak 515 ton dan 393 ton, sementara kebutuhan cabai besar dan rawit 324 ton dan 307 ton. Untuk Juli, produksi cabai besar dan rawit mencapai 500 ton dan 337 ton sedangkan kebutuhan kedua cabai tersebut adalah 353 ton dan 321 ton.
Kenaikan harga cabai pada sisi lain, kata SYL, juga berdampak pada pendapatan petani. "Tadi ada yang membahagiakan, ternyata dari kenaikan yang ada, petani juga turut menikmati. Jadi, jangan sampai hanya pedagang saja. Tentu konsumen juga harus kita perhatikan," tuturnya.
Sebagai informasi, pada kegiatan panen ini, Mentan SYL ,turut didampingi Anggota Komisi IV DPR RI, Sutirsno, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, serta beberapa pejabat eselon 1 Kementan.