China Salahkan NATO atas Situasi Rusia dan Ukraina

Rabu, 09/03/2022 16:40 WIB

BEIJING, Jurnas.com - Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan, tindakan   Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization/NATO) yang dipimpin Amerika Serikat (AS) mendorong ketegangan antara Rusia dan Ukraina ke titik puncak.

Ia mendesak AS menanggapi kekhawatiran China dengan serius dan menghindari merusak hak atau kepentingannya dalam menangani masalah Ukraina dan hubungan dengan Rusia.

Ia juga mengatakan, China menentang sanksi dan pembatasan sepihak oleh AS, dan mendesak agar kebijakan Washington terhadap Ukraina dan Rusia tidak merugikan hak dan kepentingan China.

"China akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk secara tegas membela hak `dan individu` perusahaan China," kata Zhao pada jumpa pers harian, dikutip dari Reuters, Rabu (9/3).

Perusahaan China yang menentang pembatasan AS terhadap ekspor ke Rusia dapat terputus dari peralatan dan perangkat lunak Amerika yang mereka butuhkan untuk membuat produk mereka, Sekretaris Perdagangan AS Gina Raimondo mengatakan kepada New York Times sebelumnya.

AS pada dasarnya dapat "menutup" Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) atau perusahaan China mana pun yang menentang sanksi AS dengan terus memasok chip dan teknologi canggih lainnya ke Rusia, kata Raimondo dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Selasa.

Washington juga mengancam akan menambahkan perusahaan ke daftar hitam perdagangan jika mereka menghindari pembatasan ekspor baru terhadap Rusia, karena hal itu meningkatkan upaya untuk menjaga beragam teknologi keluar dari negara yang menginvasi Ukraina bulan lalu.

Jika AS mengetahui bahwa perusahaan seperti SMIC menjual chipnya ke Rusia, "kami pada dasarnya dapat menutup SMIC karena kami mencegah mereka menggunakan peralatan dan perangkat lunak kami," kata Raimondo.

SMIC tidak segera menanggapi permintaan komentar.

TERKINI
Fellowship Tanoto Foundation Cohort Dibuka, Ini Kriteria dan Jadwalnya PGRI Desak Pemerintah Buka CPNS Guru dan Setop Skema PPPK Myanmar Beri Amnesti untuk 4.335 Tahanan, Termasuk Suu Kyi Gencatan Senjata Masih Berlaku, Israel Terus Bombardir Gaza